Oleh: DR. Syahiduz Zaman
BERITAPERS – Setiap tanggal 21 April, kita mengenang sosok R.A. Kartini dengan gegap gempita. Gaun kebaya dikenakan, kata “emansipasi” digaungkan, namun setelah itu, apakah semangat Kartini benar-benar hidup dalam denyut nadi perekonomian kita? Atau jangan-jangan, Kartini hanya berhenti sebagai simbol seremonial tanpa kita sadari bahwa di tengah gejolak ekonomi global, perempuan justru bisa menjadi kunci ketahanan bangsa?
Perang tarif dagang antara Amerika Serikat dan China beberapa tahun terakhir telah mengguncang stabilitas ekonomi dunia. Ditambah pandemi dan ancaman resesi global, negara-negara berkembang seperti Indonesia mau tak mau harus mencari “benteng pertahanan” dari dalam. Dan di sinilah peran perempuan, yang selama ini sering dipandang sebelah mata, justru menjadi penopang utama.
Mari kita buka mata dengan data. Sekitar 64,5 juta UMKM di Indonesia menyumbang lebih dari 61% terhadap PDB nasional. Menariknya, lebih dari 50% pelaku UMKM adalah perempuan. Artinya, ketika dunia dihantam badai ekonomi, para perempuan Indonesia—dengan usaha kecil mereka—adalah garda terdepan yang menjaga perekonomian tetap bergerak. Mereka bukan sekadar pelengkap, mereka adalah fondasi.
Namun, dunia masih terjebak dalam bias struktural yang menghambat potensi perempuan. Hal ini ditegaskan oleh Profesor Claudia Goldin, peraih Nobel Ekonomi 2023, yang sepanjang kariernya membongkar mitos tentang posisi perempuan dalam ekonomi. Goldin menunjukkan bahwa meskipun perempuan kini lebih terdidik dibandingkan laki-laki, mereka tetap menghadapi kesenjangan kesempatan dan upah yang signifikan. Dalam penelitiannya, ia menyebut bahwa “pertumbuhan ekonomi tanpa pemberdayaan perempuan ibarat berjalan pincang.”
Goldin menyoroti bahwa ketidaksetaraan gender di dunia kerja bukan semata-mata karena kurangnya kompetensi, melainkan karena sistem yang belum beradaptasi dengan kebutuhan perempuan, terutama dalam hal fleksibilitas kerja dan dukungan kebijakan keluarga. Temuan ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia, di mana banyak perempuan harus memilih antara peran domestik dan kontribusi ekonomi.










