Pertanyaannya, sampai kapan kita membiarkan potensi emas ini terkubur oleh norma usang? Jika Kartini dulu berjuang agar perempuan mendapat akses pendidikan, maka perjuangan hari ini adalah memastikan perempuan mendapat akses penuh dalam perekonomian modern.
Pemberdayaan perempuan bukan lagi isu moral atau sekadar tuntutan kesetaraan. Ini adalah strategi ekonomi. Bank Dunia bahkan mencatat, jika kesenjangan gender di sektor kerja bisa ditutup, maka PDB global berpotensi meningkat hingga 26%. Bayangkan, berapa banyak peluang yang kita sia-siakan hanya karena masih terpaku pada stigma lama.
Di tengah ancaman ketidakpastian global, Indonesia butuh pilar ketahanan yang kokoh. Bukan hanya investasi asing atau industrialisasi besar-besaran, tetapi penguatan ekonomi akar rumput yang digerakkan oleh perempuan. Sudah saatnya kebijakan pemerintah lebih progresif dalam mendukung pelaku usaha perempuan—dari akses permodalan, pelatihan digital, hingga perlindungan sosial yang memadai.
Refleksi Hari Kartini tahun ini seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ini momentum untuk menggugah kesadaran bahwa di balik setiap warung kecil, kerajinan tangan, hingga bisnis online rumahan, ada Kartini-Kartini modern yang sedang menopang ekonomi bangsa.
Karena selama kita masih memandang perempuan hanya sebagai “pengisi” dalam perekonomian, kita sedang menutup mata dari potensi terbesar yang kita miliki.
Jadi, saat dunia masih bergulat dengan dampak perang dagang dan krisis global, mari kita tanyakan pada diri sendiri: apakah kita sudah benar-benar menghidupkan semangat Kartini? Atau kita masih terjebak dalam euforia simbolis tanpa aksi nyata?
Sudah waktunya kita sadar, bahwa masa depan ekonomi Indonesia ada di tangan mereka yang selama ini dianggap “pelengkap”. Saatnya perempuan menjadi pilar utama ketahanan ekonomi. Bukan besok, tapi hari ini.(*)










