Beritapers.com- Makassar- Antisipasi ancaman bencana di tengah potensi geografis Jeneponto terus diperkuat. Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto, bekerja sama dengan Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar, Jumat (18/7/2025) resmi menutup pelatihan krusial Gizi Bencana (End User) Angkatan 1 dan 2 yang berlangsung di Hotel Novotel Makassar.
Pelatihan intensif selama empat hari, sejak 15 hingga 18 Juli 2025, ini diikuti oleh 20 peserta terpilih masing-masing angkatan. Mereka adalah ujung tombak yang dipersiapkan khusus untuk menangani aspek gizi dalam situasi darurat bencana.
H. M. Jufri HM, Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Jeneponto, menjelaskan urgensi pelatihan ini. “Manajemen gizi berperan penting dalam penanggulangan bencana untuk mencegah risiko penurunan status gizi pada kelompok rentan,” tegasnya. Ia menyoroti bahaya fatal jika penanganan gizi tidak tepat, terutama pada bayi dan anak yang menderita malnutrisi, di mana risiko kematian bisa meningkat drastis.
Jufri juga mengingatkan bahwa masyarakat umum pun sangat rentan terhadap masalah gizi jika dampak bencana berkepanjangan tanpa penanganan yang memadai. Penanganan gizi dalam situasi bencana merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya penanggulangan krisis kesehatan, sebagaimana diamanatkan dalam PMK No. 75 Tahun 2019 tentang Penanggulangan Krisis Kesehatan, serta PMK No. 4 Tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimal di Bidang Kesehatan.
“Peraturan ini mengamanatkan bahwa penanganan gizi dalam situasi bencana dan krisis kesehatan merupakan tanggung jawab bersama, baik pemerintah pusat maupun daerah, serta masyarakat,” imbuhnya, menekankan kolaborasi multi-pihak.
Pelatihan ini, lanjut Jufri, “bukan hanya soal teori. Ini tentang kesiapan nyata menghadapi kondisi terburuk, dengan tetap mengedepankan perlindungan terhadap kelompok paling rentan.” Diharapkan, ilmu yang didapatkan peserta akan menjadi bekal konkret. “Ketika ada bencana, mereka sudah tahu apa-apa yang harus mereka laksanakan. Jika kedepannya terjadi bencana di Kabupaten Jeneponto, mereka siap-siap untuk melaksanakan apa yang seharusnya mereka lakukan dalam menghadapi bencana itu,” pungkasnya optimis.
Salah satu peserta pelatihan, Nur Asyifa, menyampaikan kesan positifnya. “Saya sangat bersyukur mengikuti pelatihan ini karena mendapatkan ilmu dan pengalaman baru yang saya dapatkan di sini. Mudah-mudahan kami dapat merealisasikannya ketika kembali ke tempat kerja masing-masing,” ujarnya, menunjukkan kesiapan untuk mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh.
Dengan selesainya pelatihan ini, Jeneponto kini memiliki tim yang lebih siap dan terlatih dalam manajemen gizi bencana, sebuah langkah proaktif yang krusial demi melindungi kesehatan dan keselamatan warganya di tengah situasi darurat.
Laporan Rafi










