BeritaPers. Opini || Tahun baru Hijriah sering kali datang tanpa gegap gempita. Tidak ada pesta kembang api, hitung mundur, atau perayaan besar seperti tahun baru Masehi. Namun justru di situlah letak maknanya. Muharram mengajak umat Islam untuk merenung, mengevaluasi diri, dan memperbaiki arah perjalanan hidup.
Bagi anak muda, 1 Muharram 1448 H adalah momentum yang tepat untuk bertanya: sudah sejauh mana kualitas diri kita bertumbuh dalam setahun terakhir? Apakah kita semakin dekat dengan cita-cita, keluarga, masyarakat, dan Tuhan? Ataukah justru semakin larut dalam rutinitas yang membuat hidup berjalan tanpa arah?
Di era digital, tantangan anak muda tidak lagi sebatas kemiskinan atau keterbatasan akses pendidikan. Tantangan terbesar justru datang dari banjir informasi, distraksi media sosial, budaya instan, dan kecenderungan mencari pengakuan daripada prestasi.
Laporan berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa generasi muda saat ini menghabiskan berjam-jam setiap hari di depan layar. Banyak yang terhubung dengan dunia, tetapi merasa kesepian. Banyak yang memiliki ribuan pengikut di media sosial, tetapi kehilangan tujuan hidup yang jelas.
Karena itu, makna hijrah pada tahun ini perlu dimaknai secara lebih luas. Hijrah bukan hanya berpindah tempat, melainkan berpindah dari kebiasaan yang melemahkan menuju kebiasaan yang memberdayakan.
Dalam konteks global, kita melihat banyak contoh anak muda yang melakukan “hijrah” dalam arti perubahan positif. Di berbagai negara, muncul generasi muda yang memanfaatkan teknologi untuk membangun inovasi pendidikan, mengembangkan startup berbasis solusi sosial, hingga menciptakan gerakan lingkungan yang berdampak luas. Mereka tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi pencipta perubahan.
Fenomena yang sama juga mulai terlihat di Indonesia. Banyak anak muda yang memilih meninggalkan budaya konsumtif dan mulai membangun usaha digital, mengembangkan produk lokal, menjadi konten kreator edukatif, menggerakkan komunitas literasi, hingga mengajar anak-anak di daerah terpencil. Mereka menunjukkan bahwa hijrah tidak selalu dimulai dari langkah besar, tetapi dari keputusan sederhana untuk menjadi lebih bermanfaat.
Hijrah pertama yang dibutuhkan anak muda saat ini adalah hijrah pribadi. Dari kebiasaan menunda menjadi disiplin, dari kecanduan gawai menjadi pembelajar aktif, dari sekadar bermimpi menjadi berani bertindak. Perubahan kecil seperti salat tepat waktu, membaca beberapa halaman buku setiap hari, atau mengurangi satu jam penggunaan media sosial dapat menjadi titik awal perubahan besar.
Hijrah kedua adalah hijrah keluarga. Kemajuan teknologi sering kali membuat komunikasi semakin mudah, tetapi kedekatan emosional semakin renggang. Tidak sedikit anak muda yang lebih akrab dengan layar telepon dibandingkan dengan orang tuanya sendiri. Padahal keluarga adalah sekolah pertama pembentukan karakter. Anak muda yang sukses tidak hanya diukur dari prestasi akademik atau karier, tetapi juga dari kemampuannya menghormati dan membahagiakan orang tua.
Hijrah ketiga adalah hijrah sosial. Terlalu banyak anak muda yang pandai mengkritik, tetapi sedikit yang mau terlibat. Padahal bangsa ini membutuhkan generasi yang hadir sebagai solusi. Mengajar mengaji di masjid, menjadi relawan kemanusiaan, membersihkan lingkungan, atau membantu teman yang sedang mengalami kesulitan merupakan bentuk kontribusi nyata yang sering kali lebih berharga daripada seribu komentar di media sosial.
Hijrah terakhir adalah hijrah kebangsaan. Indonesia sedang menikmati bonus demografi, ketika jumlah penduduk usia produktif mencapai puncaknya. Kondisi ini dapat menjadi kekuatan besar atau justru menjadi beban jika generasi mudanya tidak siap.
Negara-negara yang maju hari ini tidak dibangun oleh sumber daya alam semata, melainkan oleh kualitas manusianya. Oleh karena itu, anak muda Indonesia perlu berhijrah dari budaya konsumtif menuju budaya produktif; dari sekadar pengguna teknologi menjadi pencipta inovasi; dari pembaca informasi menjadi penghasil karya.
Muharram mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Karena itu, tahun baru Hijriah ini dapat dimulai dengan tiga komitmen sederhana: mengurangi satu kebiasaan buruk, menambah satu amalan baik, dan menetapkan satu target besar yang ingin dicapai dalam urusan dunia maupun akhirat.
Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh kebijakan semata, tetapi juga oleh kualitas generasi mudanya. Jika jutaan anak muda Indonesia memutuskan untuk berhijrah menjadi lebih disiplin, lebih peduli, lebih produktif, dan lebih berintegritas, maka sesungguhnya mereka sedang membangun masa depan bangsa.
Tahun baru Hijriah bukan sekadar pergantian kalender. Ia adalah panggilan perubahan. Dan perubahan itu selalu dimulai dari diri sendiri.
Selamat Tahun Baru Islam 1448 H. Saatnya anak muda berhijrah dari wacana menuju karya, dari keluhan menuju solusi, dan dari mimpi menuju aksi.






















Discussion about this post