BeritaPers. Opini – Di tengah tuntutan pembelajaran abad ke-21 yang menekankan kreativitas, kolaborasi, dan berpikir kritis, strategi pembelajaran ekspositori sering dianggap “cara lama” yang identik dengan ceramah. Penilaian ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak adil.
Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), strategi ekspositori justru tetap memiliki relevansi yang kuat, terutama ketika sekolah menuntut penguasaan konsep dasar, ketepatan pemahaman dalil, dan keteraturan kerangka berpikir keagamaan. Hal yang sering luput dibahas bukan apakah ekspositori harus ditinggalkan, melainkan bagaimana strategi ini diterapkan secara tepat, terukur, dan dipadukan dengan strategi lain agar tidak berujung pada pembelajaran pasif.
Secara konseptual, strategi ekspositori merupakan pendekatan pembelajaran yang menempatkan guru sebagai penyaji materi secara sistematis, dengan tujuan utama memperjelas struktur konsep dan mempercepat pemerolehan pengetahuan yang bersifat deklaratif. Dalam PAI, materi yang memuat definisi, klasifikasi, urutan prosedur ibadah, konsep akidah-akhlak, serta pemaknaan ayat atau hadis tertentu sering menuntut penjelasan runtut dari guru agar tidak terjadi salah interpretasi. Pada titik ini, ekspositori berfungsi sebagai “kerangka” yang menolong peserta didik memahami peta besar sebelum masuk ke diskusi yang lebih eksploratif.
Bentangan Penerapan di Kelas: Dari Pembuka hingga Penilaian
Penerapan strategi ekspositori yang efektif tidak berhenti pada ceramah satu arah. Ia berjalan sebagai rangkaian langkah yang berorientasi pada kejelasan tujuan dan kontrol pemahaman. Fase atau tahapannya:
Pertama, fase orientasi dan penetapan tujuan. Guru PAI memulai dengan mengarahkan fokus: kompetensi apa yang akan dicapai, mengapa topik itu penting, dan bagaimana keterkaitannya dengan kehidupan nyata peserta didik. Misalnya pada materi adab bermedia sosial dalam perspektif akhlak, guru menetapkan target: peserta didik mampu membedakan ghibah, fitnah, dan tabayyun, serta menerapkan indikator perilaku digital yang bertanggung jawab.
Kedua, fase apersepsi dan aktivasi pengetahuan awal. Di sinilah ekspositori sering gagal bila guru langsung “mengisi” tanpa memeriksa bekal awal peserta didik. Guru dapat memulai dengan pertanyaan diagnostik singkat, studi kasus ringan, atau memunculkan miskonsepsi umum (misalnya: “semua kritik itu ghibah”). Tujuannya bukan diskusi panjang, tetapi memastikan “pintu masuk” unyuk pendalaman materi.
Ketiga, fase penyajian materi yang terstruktur. Ini inti ekspositori: penjelasan runtut, contoh yang relevan, ilustrasi sederhana, dan penekanan pada konsep kunci. Pada PAI, struktur bisa dibangun dengan pola: definisi–dalil–contoh–batasan–implikasi. Jika materi membahas wudhu, misalnya, ekspositori yang baik menyajikan urutan rukun dan sunnah, disertai contoh kesalahan yang sering terjadi, lalu penjelasan mengapa kesalahan tersebut berdampak pada sah atau tidaknya ibadah.
Keempat, pengecekan pemahaman (checking for understanding). Strategi ekspositori yang bertanggung jawab selalu menyediakan jeda untuk verifikasi. Guru dapat memakai kuis cepat, pertanyaan bertingkat (mudah–sedang–tinggi), atau teknik exit ticket. Di tahap ini, guru menemukan apakah peserta didik benar-benar paham atau sekadar diam.
Kelima, penguatan dan latihan terbimbing. Setelah penjelasan, peserta didik memerlukan latihan yang diarahkan agar pengetahuan tidak berhenti sebagai hafalan. Dalam PAI, latihan dapat berupa klasifikasi kasus (mana yang termasuk riya, mana yang bukan), menyusun langkah ibadah secara urut, atau menyimpulkan pesan moral dari potongan ayat/hadis.
Keenam, penilaian dan tindak lanjut. Ekspositori yang baik menutup dengan ringkasan poin inti, penilaian formatif, dan rencana remedial/pengayaan. Ini penting karena PAI tidak hanya mengejar pengetahuan, tetapi pembentukan pemahaman yang benar dan konsisten.
Melalui strategi ekspositori pada PAI, terdapat beberapa keutamaan: (1) akurasi dan kontrol konsep. PAI memiliki bagian-bagian yang sensitif terhadap kesalahan interpretasi. Ekspositori membantu menjaga ketepatan definisi, konteks dalil, serta pemisahan antara konsep inti dan contoh; (2) efisiensi waktu untuk materi dasar. Sekolah sering menghadapi keterbatasan jam pelajaran. Ekspositori memungkinkan guru memberikan kerangka cepat sebelum masuk aktivitas yang lebih partisipatif; dan (3) membangun “kerangka berpikir” (schema).
Banyak siswa gagal bukan karena tidak mau berpikir, tetapi karena tidak memiliki struktur pengetahuan. Ekspositori membantu membangun struktur itu, sehingga diskusi dan proyek menjadi lebih bermakna.
Sedangkan kelemahannya: (1) potensi pasif dan ilusi paham. Diam bukan berarti mengerti. Ekspositori yang dominan dapat menciptakan kesan “materi sudah tersampaikan” padahal pemahaman tidak terbentuk; (2) rendahnya keterampilan berpikir tingkat tinggi jika tidak dipadukan. PAI juga menuntut nalar etis, kemampuan mengambil keputusan moral, dan refleksi. Itu sulit tumbuh bila kelas hanya mendengar; dan (3) kesenjangan pengalaman siswa. Siswa berbeda latar keluarga, budaya, dan literasi agama. Ekspositori yang tidak kontekstual mudah terasa jauh dari kehidupan mereka.
Terima kasih, Allahu a’lam bissawab.
Penulis : Dr. Usman, S.Ag., M.Pd
Dosen Prodi PAI FTK UINAM
Ketua Prodi PPG.






















Discussion about this post