BeritaPers. Opini || Masuk hari ketiga, narasi “berbukalah dengan yang manis” mulai bertransformasi menjadi legitimasi untuk bunuh diri pelan-pelan lewat gula. Kita semua tahu secara medis bahwa mengguyur perut kosong dengan sirup dan gorengan berminyak adalah kejahatan terhadap sistem pencernaan. Namun, atas nama tradisi dan “hadiah” setelah berjuang, kita melakukannya dengan penuh sukacita dan tanpa dosa.
Ini adalah bentuk provokasi terhadap akal sehat. Kita berpuasa untuk sehat, tapi saat berbuka, kita mengonsumsi zat yang bisa membuat ahli gizi menangis tersedu-sedu. Ramadhan di media sosial berubah menjadi katalog makanan yang provokatif. Esensi keprihatinan sosial yang seharusnya muncul dari rasa lapar justru terkubur di bawah tumpukan piring-piring penuh lemak di meja makan restoran mewah.
Ini menunjukkan kegagalan kita dalam memahami mindful eating. Kita makan bukan karena butuh nutrisi, tapi karena lapar mata dan dorongan dopamin. Pendidikan agama di sekolah-sekolah jarang menyentuh aspek kesehatan holistik ini. Kita diajari cara niat puasa, tapi jarang diajari cara menghargai tubuh sebagai amanah Tuhan yang tidak boleh dizalimi dengan kolesterol berlebih.
Coba perhatikan betapa agresifnya kita berburu takjil. Ada semacam urgensi eksistensial untuk mendapatkan bakwan terakhir di tukang gorengan. Apakah ini cerminan dari masyarakat yang bertakwa, atau masyarakat yang sebenarnya masih sangat terikat pada materialisme makanan? Puasa seharusnya memerdekakan kita dari ketergantungan, bukan malah membuat kita makin diperbudak oleh keinginan lidah.
Besok, coba buka puasa dengan air putih dan kurma saja, seperti yang disarankan secara normatif. Rasakan protes dalam batinmu. Jika kamu merasa menderita tanpa gorengan, berarti puasamu selama ini mungkin baru sebatas pindah tempat makan, belum sampai pada tahap penyucian keinginan.






















Discussion about this post