BeritaPers. Opini || Sejujurnya, saya selalu merasa kasihan pada bulan Syawal. Dia datang dengan beban ekspektasi yang berat, seolah-olah harus menjadi panggung pembuktian apakah sebulan penuh kita menahan lapar itu membuahkan hasil atau hanya sekadar pindah jam makan.
Begitu takbir bergema, seolah ada tombol reset massal yang ditekan. Masjid yang tadinya sesak sampai ke teras, tiba-tiba kembali lega, bahkan saking leganya, suara kipas angin pun terdengar lebih merdu daripada suara jamaahnya.
Fenomena hilangnya jamaah ini sebenarnya lucu kalau dipikirkan secara mendalam. Kita seolah sedang melakukan ghosting massal kepada Tuhan. Selama Ramadhan, kita rajin sekali mengetuk pintu langit dengan doa dan tadarus, tapi begitu Idul Fitri tiba, kita malah asyik mengetuk pintu tetangga demi sepiring buras, ketupat, dan rendang. Seolah-olah hubungan kita dengan Yang Maha Kuasa punya kontrak kerja yang berakhir tepat di tanggal satu Syawal.
Bicara soal makanan, transisi dari Ramadhan ke Syawal adalah fase paling berbahaya bagi usus dan harga diri. Selama sebulan kita diajari mengendalikan nafsu, tapi di hari raya, nafsu itu meledak seperti kembang api. Kita menyebutnya merayakan kemenangan, padahal sebenarnya itu adalah balas dendam terstruktur. Ketupat, rendang, sambal goreng ati, hingga nastar yang tadinya tenang di dalam toples, mendadak hilang dalam sekejap mata.
Di sinilah letak sisi menggelitiknya: kita seringkali lebih takut pada timbangan digital daripada sisa-sisa dosa yang belum terhapus. Kita panik melihat angka timbangan yang bergeser ke kanan, tapi santai saja melihat kualitas ibadah yang bergeser ke kiri. Padahal, makna kembali fitrah bukan berarti kembali ke setelan pabrik yang malas beribadah, melainkan mempertahankan ritme disiplin yang sudah susah payah dibangun.

Ramadhan sebenarnya adalah laboratorium karakter. Namun sayangnya, banyak dari kita yang menjadi peneliti yang buruk. Kita hanya melakukan eksperimen menahan lapar, tanpa benar-benar mencatat hasilnya ke dalam perilaku sehari-hari. Begitu keluar laboratorium, kita lupa semua prosedurnya. Marah-marah di jalanan kembali jadi hobi, dan membicarakan tetangga kembali jadi menu pembuka yang lebih sedap dari es buah.
Lucunya lagi, kita sering menganggap setan adalah kambing hitam tunggal. Selama Ramadhan, mereka dirantai, dan kita merasa sangat suci. Begitu Syawal tiba dan masa tahanan mereka habis, kita langsung menyalahkan mereka atas kemalasan kita. Padahal, bisa jadi setannya malah bingung melihat tingkah kita yang lebih setan daripada mereka saat menyantap hidangan Lebaran tanpa henti.
Ada sebuah paradoks dalam cara kita berpakaian. Di akhir Ramadhan, kita sibuk mencari baju baru untuk membungkus raga yang katanya sudah suci. Padahal, inti dari Idul Fitri adalah jiwa baru, bukan sekadar kain yang dibeli dengan uang THR yang sisa sedikit. Kita terlalu fokus pada bungkus, sampai lupa bahwa isi di dalamnya masih seringkali “stok lama” yang penuh debu dengki dan sombong.
Maka, pasca-Ramadhan sebenarnya adalah ujian yang sesungguhnya. Ramadhan itu hanya sesi latihan atau training camp. Atlet yang hebat tidak hanya hebat saat latihan, tapi justru saat pertandingan dimulai. Nah, pertandingan kita yang sebenarnya adalah sebelas bulan ke depan. Apakah kita tetap bisa menjaga lisan saat tidak sedang haus, atau kita kembali menjadi mesin penghujat yang handal di media sosial?
Lebaran adalah momen di mana semua orang mendadak jadi pemaaf. Ini bagus, tapi juga agak aneh. Kenapa kita harus menunggu setahun sekali untuk tidak saling membenci? Kenapa maaf harus dipaketkan dengan buras, ketupat, dan rendang? Seolah-olah kalau tidak ada makanan enak, pintu maaf masih terkunci rapat. Syawal seharusnya menjadi momentum untuk membiarkan pintu maaf itu tetap terbuka sepanjang musim, bukan hanya saat ada kue kaleng di meja.
Satu hal yang pasti, keberhasilan Ramadhan seseorang tidak bisa dilihat dari seberapa putih baju kokonya saat Lebaran. Keberhasilan itu terlihat dari seberapa manusiawi dia memperlakukan sesama setelah Ramadhan pergi. Jika setelah puasa kita masih hobi memotong antrean atau malas berbagi, mungkin selama sebulan kemarin kita hanya melakukan diet ketat yang dibumbui dengan sedikit ritual keagamaan.
Mari kita jujur pada diri sendiri. Menjadi baik itu memang melelahkan, tapi menjadi buruk itu jauh lebih menguras energi dalam jangka panjang. Ramadhan kemarin memberi kita peta jalan untuk menjadi versi terbaik diri sendiri. Sayangnya, banyak dari kita yang lebih memilih melipat peta itu dan menyimpannya di laci, lalu kembali berjalan tanpa arah sambil menunggu Ramadhan tahun depan datang menyelamatkan kita lagi.
Selamat menjadi alumni Ramadhan yang jujur. Tidak perlu berpura-pura suci kalau memang masih suka khilaf, yang penting ada usaha untuk tidak kembali ke titik nol. Mari kita jadikan Syawal ini sebagai ajang untuk perlahan-lahan belajar bahwa berbuat baik itu tidak perlu menunggu bulan suci, karena Tuhan tidak pernah mengambil cuti untuk mengawasi apa yang kita perbuat.






















Discussion about this post