BeritaPers. Opini – Sepuluh malam terakhir Ramadhan, bukan sekedar menghitung waktu, melainkan panggilan jiwa. Panggilan untuk memikirkan, berdiskusi, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Setelah melewati dua puluh malam dengan berbagai ujian dan anugerah, kini kita berdiri di ambang pintu pengampunan yang terbentang luas.
Saya selalu tergetar setiap kali memikirkan hadis Rasulullah SAW, “Inilah bulan yang permulaannya (10 hari pertama) penuh dengan rahmat, yang pertengahannya (10 hari pertengahan) penuh dengan ampunan, dan yang terakhirnya (10 hari terakhir) Allah melimpahkan hamba-Nya dari api neraka.”Dalam hiruk-pikuk dunia yang sering kali menenggelamkan hati kita dalam kelalaian, janji jaminan dari api neraka ini adalah sebuah harapan yang tak ternilai harganya.
Rasulullah SAW, teladan utama kita, menunjukkan betapa pentingnya sepuluh malam terakhir ini. Beliau meningkatkan intensitas ibadah, menghidupkan malam dengan salat, doa, dan zikir. Jika Rasulullah SAW saja demikian, lalu bagaimana dengan kita, hamba-hamba yang penuh dosa ini? Apakah kita akan menyia-nyiakan kesempatan yang begitu berharga ini?
Malam Lailatul Qadar: Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan, Sampai Jangan Terlewatkan!






















Discussion about this post