BeritaPers. Opini – Bulan Ramadhan. Ah, bulan yang kita nanti-nanti dengan harapan membuncah, tapi sering berakhir dengan sedikit rasa galau. Bagaimana tidak? Sebulan penuh kita ditempa untuk menjadi insan yang bertaqwa, seperti pesan Allah: la’allakum tattaquun . Tapi, pertanyaannya, setelah Ramadhan apakah kita tetap istiqamah? Atau malah balik lagi ke ‘zona nyaman’ yang kurang produktif?
Seperti hidangan buka puasa yang kaya rasa, puasa itu sendiri adalah campuran antara kedalaman spiritual dan penghayatan sosial. Bayangkan, sebulan penuh kita belajar mengendalikan diri, menahan hawa nafsu, rajin ke masjid, membaca Al-Qur’an, tidak ghibah (semoga!), hingga memupuk kepekaan sosial dengan bersedekah. Tapi, begitu Syawal tiba, apakah kita masih mampu mempertahankan kebiasaan baik ini? Atau semuanya berakhir seperti “semangat kebaikan musiman”?
Rasulullah SAW pernah mengingatkan kita betapa akhir Ramadhan itu “galau tingkat kosmik”. Bayangkan, langit, bumi, hingga malaikat menangis karena musibah umat Islam: perginya Ramadhan! Di bulan ini, doa dikabulkan, amal baik dilipatgandakan, dan adzab dijauhkan. Lalu, apa yang terjadi setelahnya? Apakah Ramadhan hanya momen singkat yang berlalu begitu saja?
Sebulan penuh kita dididik menjadi pribadi yang tangguh. Taqwa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga , tapi bagaimana kita menumbuhkan iman, melahirkan jiwa yang mulia, dan menjadi rahmat bagi semesta
(rahmatan lil-alamin). Idealnya, kita menjadikan Ramadhan sebagai pintu masuk menuju transformasi diri yang lebih baik—baik secara individu maupun sosial.
Di hari-hari terakhir Ramadhan, mari kita optimalkan kesempatan ini untuk naik level! Kebaikan bukan hanya soal “checklist harian” selama Ramadhan, tapi bagaimana kita bisa menjadi insan bertaqwa secara autentik. Tauhid tinggi, hubungan dekat dengan Allah (habluminallah), dan amal shaleh dalam interaksi sosial
(habluminannas ) harus menjadi kebiasaan baru, bukan sekadar kebiasaan musiman.






















Discussion about this post