BeritaPers. Opini – Di zaman dulu manusia dibentuk oleh kelas yang gaduh dan guru yang cerewet, oleh kapur yang patah dan pemikiran yang patah-patah, Tapi tetap dipikirkan. Kini manusia lebih sering lahir dari rahim algoritma, disusui oleh likes, Dan dibesarkan oleh notifikasi. Saat ini pendidikan bergeser dari proses menjadi performa, dari kedalaman menjadi ketenaran, dari nalar menjadi trigger. Shikoublade menyebutnya sebagai Netizen Algoritmis yaitu mahluk digital yang lebih tahu tren ketimbang tahu diri, mereka tidak lagi bertanya apa maknanya, tapi berapa engagementnya. Sebab yang dinilai bukan isi pikiran, melainkan isi dasbor statistik.
Di sinilah awal keretakan budaya berpikir, Ketika AI hadir bukan sebagai alat bantu refleksi Tapi jadi tempat mera mal nasib asmara dan mengetik doa, Logika di subkontrakan Demi viralitas yang disulap jadi kebenaran semu. Pengguna internet di indonesia memakai AI generatif Bukan untuk edukasi melainkan untuk hiburan.
Sementara di belahan dunia lain AI menjelajah sel kanker. Kita sibuk mengetik, chat GPT bikin pantun lucu buat belahan hati, tolong ramal kan jodoh saya dan lain-lain. Shikoublade menyebut ini dukunisasi digital, bukan karena AI jadi pintar tapi karena manusia ingin disihir, karena statistik jadi pengganti logika dan prompt jadi mantera dan ironisnya hal ini makin tajam ketika dunia pendidikan pun ikut menyerah pada kenyamanan mesin. Tercatat 6 dari 10 mahasiswa menggunakan AI untuk mengerjakan tugas tanpa mengecek ulang hasilnya, mereka lulus tapi tidak belajar, mengetik lebih cepat dari merenung. Shikoublade menyebut ini sebagai otomatisasi kebodohan.
Saat berfikir bukan lagi proses internal, tapi eksternal yang diwakilkan ke mesin. Masih belum berhenti disitu, kampus yang dulu jadi ruang kontemplasi, kini berubah menjadi pabrik sertifikasi.
Studi literasi digital menunjukkan bahwa hanya 12% mahasiswa yang mampu membedakan mana hasil AI dan mana riset ilmiah. Kampus menjual gelar seperti supermarket, cepat, murah dan bebas mikir. Gelar bertambah namun kapasitas mengecil, jadi yang tersisa hanya kemampuan meniru dengan estetika, Shikoublade menyebutnya sebagai Akademia instant. Tempat dimana gelar lebih penting dari pada gagasan dan skripsi lebih cepat diketik daripada direnungi, dan penyakit iniakan terus menjalar kepada netizen algoritmi.






















Discussion about this post