Beritapers – || Ada pengalaman kurang nyaman Ketika saya menguji komprehensif beberapa mahasiswa di salah satu jurusan di UIN Alauddin Makassar, mata ujian Studi Keislaman (Dirasah Islamiyah). Mungkin bukan hanya saya dosen penguji yang mengalami hal serupa. Saya minta mereka menjelaskan tema-tema dasar tentang akidah Islam.(23/2/2025)
Mereka tidak langsung menjawab tetapi menunduk dan kayaknya searching sesuatu di handphone. Saya paksa menjawab langsung dan mereka tergagap tidak mampu menjawab dengan benar. Akhirnya saya tanya: “Kalian lihat apa di hp?”. Mareka jawab: “Cari jawaban di AI pak, karena kami tidak tahu jawaban pertanyaan bapak.” Waduuh…
Di era digital yang serba cepat ini, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) telah merambah berbagai aspek kehidupan, termasuk ranah spiritual dan keagamaan. Mahasiswa, sebagai generasi yang paling terpapar teknologi, kini semakin mengandalkan AI untuk memenuhi kebutuhan informasi keagamaan mereka.
Namun, ketergantungan ini menimbulkan pertanyaan: apakah akses instan melalui AI benar-benar memperdalam pemahaman spiritual, atau justru mengikis esensi dari pengalaman beragama itu sendiri?
Denny JA, dalam teorinya tentang agama di era AI, menyoroti bahwa teknologi ini memungkinkan individu mengakses sejarah agama, berbagai tafsir alternatif, hingga kritik terhadap doktrin keagamaan tanpa perlu perantara otoritas keagamaan tradisional.
Hal ini berpotensi menggeser peran ulama, pendeta, dan biksu sebagai sumber utama pengetahuan agama. Namun, apakah informasi yang diperoleh dari AI dapat menggantikan bimbingan dan kebijaksanaan yang diberikan oleh pemimpin spiritual yang berpengalaman?










