Kini berpulang kepada diri kita masing-masing. Apakah mau menjadi manusia aneh gaya kafir yang hidup hanya mencari kenikmatan dunia dan terpelanting dari ikatan ruh Ilahiyah, ataukah mau menjadi orang aneh Islami yang sikap hidupnya tetap konsisten untuk menjadikan dirinya sebagai manusia yang mampu menjadi pelopor kebenaran dan kemuliaan akhlaq?
Saya berharap, kiranya kita akan memilih menjadi Al-Ghuraba, orang aneh yang Islami, karena bukankah Rasulullah bersabda : “berbahagialah wahai orang aneh yang selalu menghidupkan sunnahku dan bersikap hidup bersih penuh amanah”
(AWR)






















Discussion about this post