Umar kemudian melangkah menghampiri lampu tempel dan meniupnya sehingga kamar kerja itu menjadi gelap. Melihat tingkah orang tuanya itu sang putra bertanya, “Ayah, saya datang ke sini untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting, tetapi kenapa ayah matikan lampu sehingga gelap begini?” Umar mejawab dengan tenang, “Anakku, kita akan membicarakan soal pribadi, soal keluarga kita. Sedang lampu tempel itu, adalah inventaris negara dan minyaknya aku peroleh dari Baitul Maal, uang rakyat. Tidak pantas kita membicarakan kepentingan pribadi atau keluarga dengan memanfaatkan fasilitas negara dan uang rakyat. Maka kini kita bebas bicara untuk kepentingan kita tanpa dibayangi oleh pengkhianatan atau memanfaatkan jabatan. Ayo bicaralah”.
Pejabat seperti Umar, kalau saja ada dinegeri kita ini, pastilah disebut sebagai orang ekstrim atau manusia langka. Sikap Umar ini, persis seperti apa yang disabdakan Rasulullah, “Mereka itu adalah manusia langka yang menambah sesuatu yang tidak dimiliki kebanyakan manusia yang lain”.
Inilah tipe orang-orang aneh yang dimaksudkan oleh Rasulullah, yaitu manusia yang tetap membawa pelita amanah. Akhir-akhir ini Al-Ghuraba itu telah mulai hilang dari cakrawala pergaulan kita sehari-hari.
Selanjutnya Rasulullah bersabda. “Orang aneh itu ialah mereka yang selalu menghidupkan sunnahku, ketika begitu banyak manusia telah berupaya untuk mematikannya.”






















Discussion about this post