BERITAPERS || PAREPARE — Suasana tenang di Jalan Matalie, Kelurahan Lumpue, Kecamatan Bacukiki Barat, Parepare, mendadak berubah menjadi kepanikan pada Senin, 20 April 2026, sekitar pukul 17.30 WITA. Kebakaran hebat melanda kawasan permukiman warga yang didominasi rumah panggung berbahan kayu, menyebabkan api dengan cepat membesar dan menjalar ke bangunan di sekitarnya.
Menurut keterangan warga, kobaran api pertama kali terlihat dari salah satu rumah, sebelum kemudian merambat dengan cepat akibat kondisi bangunan yang mudah terbakar serta jarak antar rumah yang relatif dekat. Dalam hitungan menit, asap hitam pekat membumbung tinggi ke udara, disertai teriakan warga yang berupaya menyelamatkan diri dan harta benda seadanya.
“Api sangat cepat membesar, kami tidak sempat menyelamatkan banyak barang,” ujar salah seorang saksi mata di lokasi kejadian.
Kepanikan meluas ketika warga berhamburan keluar rumah untuk menghindari kobaran api. Upaya pemadaman secara mandiri yang dilakukan warga tidak mampu membendung laju api yang terus meluas. Struktur rumah panggung berbahan kayu menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran api dari satu bangunan ke bangunan lainnya.
Berdasarkan data sementara, sebanyak tiga unit rumah terdampak dalam insiden tersebut. Dua rumah dilaporkan hangus terbakar hingga rata dengan tanah, sementara satu rumah lainnya mengalami kerusakan sekitar 50 persen, terutama pada bagian dinding akibat jilatan api.
Saat kejadian berlangsung, salah satu penghuni rumah diketahui berada seorang diri di dalam rumah. Ia sempat terlihat berlari keluar sambil berteriak meminta pertolongan ketika api mulai membesar. Sementara anggota keluarga lainnya tengah berada di luar rumah untuk bekerja.
Beruntung, tidak terdapat korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun demikian, kerugian material ditaksir mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah, mengingat sebagian besar bangunan beserta isi rumah tidak sempat diselamatkan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran. Belum ada keterangan resmi terkait sumber api, apakah berasal dari korsleting listrik atau faktor lainnya.
Di tengah musibah yang menimpa warga, gelombang kepedulian sosial langsung mengalir dari berbagai pihak. Front Persaudaraan Islam (FPI) Kota Parepare menjadi organisasi masyarakat pertama yang turun langsung ke lokasi untuk memberikan bantuan kepada korban.
Ketua FPI kota Parepare Uzt. Fahri Nusantara menyalurkan lansung bantuan berupa beras guna memenuhi kebutuhan pokok para korban yang kehilangan tempat tinggal dan sumber logistik sehari-hari. Bantuan tersebut diserahkan langsung kepada warga terdampak sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas kemanusiaan.
Aksi kemanusiaan ini turut diperkuat oleh tokoh masyarakat setempat, Muhammad Arief Attas, yang memberikan bantuan berupa mie instan sebagai kebutuhan darurat bagi para korban.
Selain itu, dukungan juga datang dari kalangan pengusaha Muslim di wilayah tersebut. Toko Cahaya Mustika dan Toko Cahaya Lumpue turut menyalurkan bantuan dana sebagai bentuk kepedulian terhadap korban kebakaran, guna membantu mereka memulai kembali kehidupan pasca musibah.
Bantuan yang diberikan diharapkan dapat meringankan beban para korban, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar serta proses pemulihan pascakebakaran.
Peristiwa ini menjadi pengingat serius bagi masyarakat akan tingginya risiko kebakaran di kawasan permukiman padat dengan dominasi bangunan berbahan kayu. Faktor seperti instalasi listrik yang tidak standar, penggunaan peralatan rumah tangga yang tidak aman, serta kurangnya sistem mitigasi kebakaran menjadi potensi yang perlu diwaspadai bersama.
Di sisi lain, kejadian ini juga mencerminkan kuatnya nilai solidaritas sosial di tengah masyarakat. Respons cepat dari berbagai elemen, mulai dari organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, hingga pelaku usaha, menunjukkan bahwa semangat gotong royong masih menjadi kekuatan utama dalam menghadapi situasi darurat.
Pemerintah setempat diharapkan dapat meningkatkan upaya edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan kebakaran, serta memperkuat kesiapsiagaan melalui penyediaan sarana dan prasarana penanggulangan kebakaran yang memadai di tingkat permukiman.
Sementara itu, para korban saat ini membutuhkan dukungan lanjutan, baik berupa bantuan logistik, tempat tinggal sementara, maupun dukungan psikososial untuk memulihkan kondisi pasca bencana.
Musibah ini mungkin telah menghanguskan tempat tinggal, namun tidak memadamkan kepedulian dan rasa kemanusiaan yang tumbuh di tengah masyarakat Parepare. (MLP)










