BeritaPers. Opini || Kalau hari pertama adalah euforia, hari kedua adalah realitas yang menampar wajah. Ini adalah fase di mana cadangan glikogen mulai menipis dan otak mulai mengirim sinyal halusinasi tentang es teh manis. Secara kognitif, produktivitas kita biasanya terjun bebas. Kita menyebutnya “ujian”, padahal mungkin itu hanya konsekuensi dari pola tidur yang hancur demi mengejar kuota tarawih dan sahur yang terlalu mepet.
Seringkali kita terjebak dalam dikotomi yang konyol: bekerja adalah ibadah, tapi tidur saat puasa juga dianggap ibadah. Logika ini sering disalahgunakan oleh para pencari celah untuk melegitimasi kemalasan di kantor. Ini adalah provokasi untuk integritas kita. Jika kualitas kerjamu menurun drastis hanya karena perut kosong, mungkin profesionalismemu memang hanya sebatas tenaga yang digerakkan oleh karbohidrat.
Ramadhan seharusnya melatih grit atau daya juang. Tapi yang terjadi di lapangan justru banyak orang yang mendadak jadi “zombie syariah“. Mereka berjalan lunglai, bicara irit, dan sensitivitas emosionalnya setipis kulit bawang. Sedikit senggolan di jalan raya bisa memicu khutbah kemarahan yang panjang, yang secara otomatis membatalkan esensi dari menahan diri.
Mari kita bedah secara jujur: kenapa kita lebih peduli pada sahnya puasa secara fiqih daripada kualitas puasa secara etika? Kita sangat takut masuk sebutir nasi ke tenggorokan, tapi kita santai saja membiarkan kalimat kasar keluar dari mulut yang sama. Ada diskoneksi moral yang akut di sini, di mana ritual formalitas mengalahkan substansi perilaku.
Hari kedua ini adalah waktu yang tepat untuk berhenti mengasihan diri sendiri. Kamu tidak sedang sekarat, kamu hanya sedang lapar. Jangan jadikan Tuhan sebagai alasan untuk menjadi manusia yang tidak berguna selama delapan jam kerja. Dunia tidak berhenti berputar hanya karena kamu sedang mencoba menjadi lebih shalih.






















Discussion about this post