BeritaPers. Opini || Mendekati penghujung bulan, kita mulai sibuk menghitung zakat fitrah, sebuah kewajiban yang seringkali kita anggap sebagai “pajak tahunan” yang menyebalkan. Kita mengeluarkan uang dengan perasaan berat hati, mencari beras yang paling murah demi memenuhi syarat formalitas, lalu menyerahkannya pada panitia dengan perasaan telah menyucikan jiwa.
Bagaimana mungkin kamu berharap jiwamu bersih dengan memberikan sisa-sisa recehanmu, sementara untuk kebutuhan gaya hidupmu sendiri, kamu tidak pernah perhitungan?
Zakat adalah instrumen radikal untuk menghancurkan berhala materialisme. Namun di tangan masyarakat konsumtif, ia hanya menjadi ritual cuci dosa yang sangat dangkal. Kita memberikan zakat agar harta kita aman dari gangguan, bukan karena kita benar-benar peduli pada perut si miskin. Ini adalah bentuk asuransi spiritual yang sangat egois. Kita tidak sedang berbagi kebahagiaan, kita sedang membayar upeti agar Tuhan tidak mengganggu kenyamanan hidup kita yang berlebihan.
Zakat seharusnya diajarkan sebagai bentuk redistribusi keadilan sosial, bukan sekadar sedekah sukarela. Namun, sistem kita membuatnya terasa seperti formalitas administratif. Kita tidak pernah diajak berpikir tentang struktur kemiskinan yang membuat orang-orang itu tetap menjadi penerima zakat setiap tahunnya. Kita merasa sudah menjadi pahlawan dengan memberi beras dua setengah kilo, sementara sistem ekonomi yang kita dukung terus memeras keringat mereka setiap harinya.
Ada sisi gelap dalam narsisme zakat kita. Banyak orang yang lebih senang memberikan zakat secara langsung sambil memotret wajah-wajah lesu para penerima demi konten kemanusiaan. Ini adalah penghinaan terhadap martabat manusia. Kamu memberikan sesuatu yang memang sudah menjadi hak mereka, tapi kamu meminta mereka membayar dengan harga diri mereka di depan kamera ponselmu. Zakatmu bukan lagi untuk Tuhan, tapi untuk menaikkan nilai tawarmu di mata pengikut media sosial.
Cobalah tahun ini mengeluarkan zakat dengan rasa malu. Malu karena selama setahun ini kamu terlalu banyak menumpuk harta yang sebenarnya ada hak orang lain di dalamnya. Berikan yang terbaik, bukan yang termurah. Jika kamu masih merasa rugi saat mengeluarkan zakat, itu tandanya harta telah menjadi tuhan baru dalam hidupmu. Ramadhan belum berhasil memerdekakanmu; kamu masih menjadi budak dari angka-angka di saldo bankmu sendiri.






















Discussion about this post