BeritaPers. Opini || Satu fenomena yang paling menjengkelkan menjelang lebaran adalah banjir pesan singkat “Mohon Maaf Lahir dan Batin” yang dikirim secara massal lewat grup WhatsApp. Pesan-pesan ini seringkali hanya berisi kata-kata puitis hasil copy-paste yang tidak memiliki nyawa sama sekali. Kita merasa sudah membersihkan dosa dengan mengirim satu pesan ke ratusan orang, tanpa pernah benar-benar duduk dan mengakui kesalahan kita secara jujur kepada orang yang bersangkutan.
Ini adalah bentuk “automasi maaf”. Kita ingin mendapatkan pahala memaafkan tanpa harus menanggung beban emosional dari proses meminta maaf itu sendiri. Provokasinya: apakah kamu benar-benar merasa bersalah pada orang-orang di grup itu, atau kamu hanya tidak ingin dianggap tidak sopan karena tidak ikut mengirim pesan basi tersebut? Kita sedang membangun budaya maaf yang dangkal, yang hanya menyentuh permukaan layar ponsel, bukan permukaan hati.
Memaafkan adalah proses psikologis yang mendalam dan membutuhkan keberanian luar biasa. Namun, tradisi kita menjadikannya ritual yang sangat murah dan gampang. Kita memaafkan karena kalender menyuruh kita, bukan karena kita telah berdamai dengan luka. Akibatnya, dendam itu tetap ada di sana, terbungkus rapi di balik senyum palsu saat bersalaman nanti. Kita hanya melakukan sandiwara perdamaian tahunan yang tidak pernah menyelesaikan konflik yang sesungguhnya.
Kenapa kita begitu takut untuk bicara empat mata dan mengakui kesalahan secara spesifik? Karena itu membutuhkan kerendahan hati yang nyata, sesuatu yang jarang kita latih meski sudah berpuasa hampir sebulan penuh. Kita lebih memilih retorika “lahir dan batin” karena itu adalah jalan pintas yang paling nyaman. Maaf telah menjadi komoditas lebaran, sama murahnya dengan harga sirup yang sedang diskon di minimarket terdekat.
Tahun ini, hapuslah semua draf pesan maaf massalmu. Hubungi satu atau dua orang yang benar-benar pernah kamu sakiti, dan bicaralah dengan jujur tanpa menggunakan kutipan ayat atau kata-kata puitis yang kaku. Jika kamu tidak sanggup melakukannya, maka jangan berpura-pura sudah bersih di hari raya. Maaf yang tidak jujur hanyalah bentuk kebohongan lain yang kamu tumpuk di atas dosa-dosamu yang lama.






















Discussion about this post