BeritaPers. Opini || Kita sampai di hari kelima, di mana tangan kanan memberi, tangan kiri memegang kamera smartphone. Tren “berbagi takjil” di pinggir jalan seringkali lebih mirip syuting film dokumenter pendek daripada aksi filantropi murni.
Apakah pahala tetap mengalir jika sudut pengambilan gambar (angle) belum pas atau caption-nya kurang menyentuh hati netizen?
Ini disebut sebagai performative altruism. Kita melakukan kebaikan bukan hanya untuk sasaran bantuan, tapi untuk membangun citra diri sebagai orang baik. Ramadhan memberikan panggung besar untuk narsisme yang dibalut dengan jubah agama. Memberi makan orang miskin itu mulia, tapi menjadikan kemiskinan mereka sebagai latar belakang foto profilmu adalah tindakan yang agak biadab.
Pendidikan moral kita seringkali berhenti pada kulit luar. Kita diajarkan untuk memberi, tapi jarang diajarkan tentang menjaga martabat orang yang menerima. Bayangkan perasaan orang yang sedang lapar, lalu harus dipaksa tersenyum ke arah kamera demi laporan kegiatan atau konten media sosialmu. Di mana letak empati yang katanya sedang kita asah lewat puasa?
Dunia digital memang menuntut bukti, tapi Tuhan bukan manajer media sosial yang butuh tagar untuk memvalidasi amalmu. Ada keindahan dalam kesunyian saat memberi. Namun, di zaman sekarang, jika tidak diposting, rasanya kebaikan itu tidak pernah terjadi. Ini adalah penyakit mentalitas “pamer” yang merusak ekosistem spiritualitas kita.
Cobalah sekali-sekali memberi tanpa membawa ponsel. Rasakan kecemasan saat kamu tidak bisa membagikan momen itu ke dunia. Jika kamu merasa rugi karena tidak ada yang tahu kebaikanmu, selamat, kamu baru saja menemukan bahwa egomu masih jauh lebih besar daripada rasa ikhlasmu.






















Discussion about this post