BeritaPers, Opini. Ada tiga ranah yang dapat diukur pada diri manusia, menurut Taksonomi B.S. Bloom dan Anderson, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor. Itulah sebabnya mengapa manusia dapat didik secara berjenjang hingga ke perguruan tinggi, dengan menilai ranah yang dimiliki oleh manusia.
Ranah koginitif pada diri manusia, tentu saja berkaitan dengan kemampuan intelektual dan proses berpikir manusianya. Level tertinggi dari kognisi manusia yang dapat dicapai adalah “level kreatif” (revisi taksonomi B.S. Bloom oleh Anderson dan Krathwohl), kalau saja kognitisi tersebut diasah dan dilatih melalui pendidikan secara berjenjang. Sementara aspek kognitif manusia yang berada pada level yang terendah adalah tahap mengetahui, termasuk di dalamnya adalah menghafalkan sesuatu.
Manusia hanya dapat mengamalkan atau mengaplikasikan sesuatu, setelah mereka memahami (level kedua taksonomi B.S. Bloom) apa yang mereka telah ketahui. Selanjutnya, Mengamalkan atau mengaplikasikan sesuatu di dalam taksonomi B.S. Bloom berada pada level kognitif yang ketiga dari 6 level kognitif yang ada pada diri manusia.
Jika saja dilihat dari perspektif kualitas manusia, maka manusia yang berada pada tahapan bernalar yang ketiga, masih dianggap memiliki kualitas manusia berada di bawah rata-rata manusia dewasa yang terdidik. Karena manusia yang terdidik, sudah seharusnya berada pada kualitas bernalar pada level analisis, evaluasi, dan kreatif, yakni berada pada level ke-4, ke-5, dan ke-6 (revisi taksonomi B.S. Bloom). Karena di level inilah, manusia akan melakukan perbaikan, peningkatan, dan pembaharuan terhadap lingkungan sekitar manusia.
Akhirnya, manusia yang terdidik merupakan manusia yang proses bernalarnya berada pada tahapan mampu menganalisis, mengevaluasi dan mengembangkan serta menghasilkan pengetahuan atau produk yang baharu, yang berelasi dengan kemaslahatan manusia yang berada di sekitar lingkungannya pada khususnya, dan dunia pada umumnya.
(Anwar)






















Discussion about this post