BeritaPers. Opini – Lihatlah apa yang mereka katakan! ‘Kolaborasi’ katanya? Mereka mencoba meninabobokan kita dengan ilusi kemitraan yang indah antara otak baja AI dan daging serta tulang kita. Tapi jangan bodoh! Kita sedang menyaksikan babak awal dari sebuah penggusuran massal, sebuah ‘revolusi’ yang dingin dan kalkulatif di mana algoritma akan tertawa di atas kuburan pekerjaan-pekerjaan yang dulu kita genggam erat.
Mereka bilang AI akan mengambil alih tugas-tugas ‘rutin’ dan ‘terstruktur’. Kedengarannya membantu, bukan? Tapi coba pikirkan lebih dalam! Bukankah justru pekerjaan-pekerjaan itulah yang menjadi tulang punggung penghidupan banyak dari kita? Pekerjaan-pekerjaan yang memberikan kepastian, rutinitas yang menenangkan di tengah hiruk pikuk kehidupan. Sekarang, itu semua mau dirampas dengan alasan ‘efisiensi’ dan ‘kemajuan’? Omong kosong! Ini hanyalah dalih untuk memangkas biaya dan menjadikan manusia sebagai komoditas usang.
Lalu, mereka menunjuk ke bidang kesehatan, keajaiban AI yang ‘membantu’ dokter. Membantu katanya? Atau justru mengikis intuisi dan keahlian manusiawi seorang dokter? Apakah kita benar-benar ingin menyerahkan diagnosis dan rekomendasi pengobatan kita pada sekumpulan kode yang dingin dan tanpa empati? Di mana sentuhan manusia, kehangatan seorang perawat, tatapan mata seorang dokter yang penuh pengertian? Apakah itu semua bisa digantikan oleh layar monitor dan data-data statistik? Jangan bercanda!
‘AI adalah alat,’ begitu dalih mereka selanjutnya. Tentu saja alat! Alat untuk apa? Alat untuk menyingkirkan kita! Mereka bilang kita bisa fokus pada tugas-tugas yang ‘membutuhkan kecerdasan manusia yang kompleks’. Tapi siapa yang menentukan kompleksitas itu? Dan berapa banyak dari kita yang benar-benar memiliki kesempatan untuk beralih ke pekerjaan-pekerjaan ‘kompleks’ itu? Apakah ada jaminan bahwa akan ada cukup pekerjaan ‘kompleks’ untuk menampung jutaan manusia yang kehilangan mata pencahariannya karena ‘kemajuan’ ini?
Omong kosong tentang ‘kekurangan keterampilan’! Tentu saja kita kekurangan keterampilan! Karena kita tidak pernah dipersiapkan untuk era di mana nilai seorang pekerja diukur dari kemampuannya menari dengan algoritma. Mereka enak saja menyuruh kita ‘mengembangkan pemahaman’, ‘belajar pemrograman’, ‘menganalisis data’. Tapi siapa yang akan membiayai pelatihan ini? Siapa yang akan memberi kita waktu di tengah himpitan ekonomi untuk mempelajari bahasa mesin yang asing?.






















Discussion about this post