Jangan lupakan ‘dampak sosial dan psikologis’! Tentu saja ada dampak! Kecemasan, ketidakpastian, rasa tidak berharga. Kita bukan robot yang bisa diprogram ulang begitu saja. Kita punya emosi, kita punya keluarga, kita punya mimpi dan ketakutan. Dan semua itu diabaikan demi ambisi teknologi yang katanya ‘demi kebaikan bersama’. Kebaikan siapa? Kebaikan para pemilik modal yang semakin kaya raya di atas penderitaan kita?
Dan yang paling menjijikkan adalah retorika tentang ‘keadilan dan distribusi pendapatan’. Bagaimana mungkin ada keadilan ketika keuntungan dari AI hanya dinikmati segelintir orang, sementara jutaan lainnya terlempar ke jurang pengangguran? Mereka bicara tentang ‘upaya untuk memastikan manfaat disebarluaskan secara adil’. Itu hanya omong kosong! Mana buktinya? Kita justru melihat jurang kesenjangan yang semakin menganga lebar!
Cukup sudah dengan semua retorika manis tentang ‘kolaborasi’! Mari kita buka mata lebar-lebar! AI bukan mitra, tapi ancaman nyata bagi masa depan pekerjaan kita. Kita tidak sedang dalam perlombaan untuk ‘berkolaborasi’, tapi dalam pertarungan untuk mempertahankan eksistensi kita di tengah gempuran mesin-mesin pintar ini. Saatnya kita bersuara lantang, menuntut keadilan, dan menolak untuk menjadi korban dari ‘kemajuan’ yang tidak memanusiakan!.
Penulis : Muh Anwar. HM






















Discussion about this post