Apalagi jika dibandingkan dengan hanya pendidikan akademik. Kecerdasan akademik hanya salah satu dari 8 kecerdasan multi manusia. Proses pendidikan akademik, relatif lebih pendek dan lebih mudah, dibandingkan proses pendidikan karakter.Itulah sebabnya jika kita menengok ke negara lain, banyak sekali dari mereka yang sudah sejak dini mendidik secara khusus karakter anak-anaknya. Sudah tersistem. Finlandia, Swedia dan Denmark bisa menjadi contoh bagaimana sistem pendidikan karakter dimulai dari keluarga sejak dini.
Di Swedia misalnya, orang tua lebih tepatnya kedua orang tua wajib cuti selama 2 tahun, ketika memiliki anak. Jadi mereka cuti sejak kelahiran anak, sampai sang anak berusia 2 tahun. Pemerintah menjamin gaji mereka selama 2 tahun. Selama 2 tahun itu, sang anak akan mendapatkan perhatian penuh dari kedua orang tuanya, seorang ayah dan seorang ibu. Lengkap. Bukankah ideal jika anak mendapatkan ASI selama dua tahun, plus kasih sayang langsung dan penuh dari kedua orangtuanya?
Di Finlandia lain lagi. Dalam sistem pendidikan mereka yang kemudian menjadi terbaik di dunia, tidak ada ujian, kecuali pada usia 15 tahun. Catat, ujian pertama dan satu-satunya yang dialami anak di Finlandia adalah ketika sang anak berusia 15 tahun. Usia yang cukup kuat dalam menghadapi efek dari ujian. Usia yang sudah sejak dini mendapatkan asupan karakter yang kuat. Sampai usia 15 tahun, sistem belajar mereka kombinasikan antara karakter dan multiple intellegence.
Bagaimana dengan Denmark? Setali tiga uang dengan dua negara tetangganya itu. Bagi orang Denmark, sistem pendidikan apapun sebenarnya bukan hal utama. Yang utama adalah bagaimana menanamkan karakter kepada anak-anak mereka. Pendidikan akademik, bukan ukuran. Kejujuran justru yang menjadi patokan tertinggi di sana. Selama orang-orangnya jujur, maka semua program akan berjalan dengan baik. Begitu keyakinan mereka. (Tiga negara ini berada pada posisi terendah dalam urusan korupsi).
Di Indonesia, seperti saya singgung pada bagian awal tulisan ini, saya bersyukur sudah semakin banyak pihak yang peduli dan sadar bahwa pendidikan karakter anak, jauh lebih sulit dibandingkan pendidikan multi kecerdasan (termasuk akademik). Sekarang sudah semakin banyak sekolah yang lebih mementingkan karakter dibanding akademik.Ukurannya bukan seberapa banyak medali olimpiade yang diraih, bukan seberapa tinggi nilai matematika, bukan pula peringkat kelas atau status akreditasi.






















Discussion about this post