Ada juga anak yang tidak suka matematika, tidak senang sains, tidak suka seni dan juga tidak hobi berolahraga. Dia hanya suka menulis. Potensi itu bisa digali secara maksimal, sehingga kelak dia bisa menjadi penulis hebat. Anak ini punya kecerdasan linguistik. Kalau dibahas lebih panjang lagi, sesuai dengan konsep multiple intellegence, maka kita bisa makin sadar bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan kecerdasan yang berbeda-beda.
Kita paham, bahwa manusia memang punya keunggulannya masing-masing. Tidak ada anak bodoh di dunia ini. Tidak ada juga anak yang lebih pintar dibanding yang lain. Atau paling pintar. Masing-masing pintar di bidangnya masing-masing.
Kadang sebagian dari kita masih terjebak dengan ukuran pintar dan bodoh, hanya dengan indikator prestasi akademik. Ketika sebuah lembaga di luar negeri (PISA) melansir hasil survey dua pelajaran akademik Matematika dan Sains, Indonesia yang terbawah di dunia (peringkat 65 dari 65 negara yang disurvei, seratusan negara lainnya tidak ikut disurvey), banyak pihak yang mencap murid Indonesia sebagai yang terbodoh.
Hati-hati. Cap itu sungguh buruk. Kita orang dewasa seringkali asal memberi cap kepada anak-anak. Apakah kita perhitungkan perasaan anak-anak?Kecerdasan multi yang di atas saya kupas akan menjadi ideal, ketika karakter mereka sesuai dengan karakter manusia seutuhnya. Karakter yang rendah hati, toleran, jujur, berani, kreatif dan seabrek karakter positif lainnya. Kita pasti sadar bahwa membentuk karakter jauh lebih sulit dibanding mengajari mereka membaca, menghitung, Fisika, Kimia, Matematika, Seni, Sains, Bahasa, Olahraga dan sejenisnya.
Proses pembentukan karekter harus dilakukan sejak usia dini, secara terus menerus, minimal sampai usia anak 15 tahun.Mencetak anak yang berkarakter, jauh lebih panjang, berliku dan penuh tantangan, dibandingkan menggali potensi kecerdasan multi anak-anak.






















Discussion about this post