BERITAPERS || PAREPARE – RSUD Andi Makkasau Parepare kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang bermutu, aman, dan berorientasi pada keselamatan pasien dengan menggelar Pelatihan Early Warning Score System (EWSS) bagi tenaga keperawatan, Kamis (30/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan RSUD Andi Makkasau tersebut diikuti oleh puluhan perawat dari berbagai unit pelayanan. Pelatihan ini merupakan salah satu strategi rumah sakit dalam meningkatkan kompetensi tenaga keperawatan agar mampu melakukan deteksi dini terhadap pasien yang mengalami perubahan kondisi klinis, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan sesuai standar pelayanan kesehatan.
Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD Andi Makkasau Parepare, dr. Nur HamidarAslan, Sp.OG, secara resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa perawat memiliki posisi yang sangat strategis karena menjadi tenaga kesehatan yang paling sering berinteraksi dengan pasien selama proses perawatan.
Menurutnya, kemampuan mengenali tanda-tanda awal perburukan kondisi pasien melalui penerapan Early Warning Score System merupakan kompetensi yang wajib dimiliki setiap perawat sebagai bagian dari upaya meningkatkan keselamatan pasien.
“Penerapan Early Warning Score System bukan hanya menjadi bagian dari standar pelayanan, tetapi juga merupakan upaya nyata dalam meningkatkan keselamatan pasien. Melalui pelatihan ini, kami berharap seluruh perawat semakin terampil dalam melakukan deteksi dini sehingga penanganan pasien dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terukur,” ujar dr. Nur Hamidar Aslan.
Ia menjelaskan, penerapan EWSS memungkinkan tenaga kesehatan mengidentifikasi perubahan kondisi pasien berdasarkan parameter fisiologis seperti tekanan darah, denyut nadi, laju pernapasan, suhu tubuh, tingkat kesadaran, serta saturasi oksigen. Hasil penilaian tersebut menjadi dasar bagi tim medis untuk menentukan langkah penanganan secara cepat sebelum kondisi pasien berkembang menjadi lebih kritis.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi secara komprehensif mengenai konsep dasar Early Warning Score System, teknik penilaian kondisi pasien, interpretasi skor, mekanisme pelaporan, hingga tata laksana tindak lanjut sesuai tingkat risiko pasien. Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti sesi diskusi interaktif dan simulasi penanganan berbagai kasus klinis yang sering dijumpai di ruang pelayanan.
Melalui metode pembelajaran tersebut, para peserta diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan sistem EWSS secara konsisten dalam pelayanan sehari-hari untuk meningkatkan kecepatan respons terhadap kondisi kegawatdaruratan pasien.
Humas RSUD Andi Makkasau Parepare, Hamzah, mengatakan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari program peningkatan mutu pelayanan yang secara berkelanjutan dilaksanakan oleh manajemen rumah sakit. Menurutnya, penguatan kompetensi tenaga kesehatan menjadi investasi penting dalam mewujudkan pelayanan yang profesional dan berkualitas.
“Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan merupakan komitmen kami dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Melalui pelatihan Early Warning Score System ini, kami ingin memastikan setiap perawat memiliki kemampuan yang sama dalam mendeteksi tanda-tanda awal perburukan kondisi pasien sehingga respons medis dapat dilakukan lebih cepat dan risiko komplikasi dapat diminimalkan,” kata Hamzah.
Ia menambahkan, manajemen RSUD Andi Makkasau akan terus mendorong berbagai program pendidikan dan pelatihan sebagai bagian dari pengembangan sumber daya manusia di lingkungan rumah sakit.
“Keselamatan pasien adalah prioritas utama dalam setiap pelayanan yang kami berikan. Karena itu, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan akan terus dilakukan agar kualitas layanan semakin baik, profesional, dan mampu memenuhi harapan masyarakat,” tambahnya.
Melalui pelatihan ini, RSUD Andi Makkasau Parepare berharap seluruh tenaga keperawatan dapat menerapkan Early Warning Score System secara optimal sebagai budaya kerja di setiap unit pelayanan. Implementasi sistem tersebut diyakini akan memperkuat budaya keselamatan pasien, meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, mempercepat pengambilan keputusan klinis, serta mendukung terwujudnya pelayanan rumah sakit yang unggul, profesional, dan terpercaya bagi masyarakat. (MLP)





















Discussion about this post