Oleh : Muhammad Harun, S.S., M.Pd., C.I
(Penulis adalah Dosen Fakultas Sastra UMI Makassar dan Ketua Umum DPP. Forum Dosen Swasta Nasional)
Ketika Dosen Berpura-Pura Kuat
BERITAPERS || Sebagai akademisi sekaligus instruktur hipnoterapi, hampir setiap hari saya berhadapan dengan banyak data. Data ini berasal dari berbagai sumber, baik rekan sejawat maupun data dari klien dan berisi tentang angka-angka beban kerja, target profesional, jumlah kelas, dan berbagai tuntutan-tuntutan lainnya. Namun dari semua angka itu, ada satu angka yang hampir tidak pernah muncul dalam laporan apa pun termasuk di laporan borang akreditasi, itulah yang disebut : angka tentang kelelahan batin.
Kita hidup di zaman yang menuntut kita untuk tampak baik-baik saja setiap saat.
Dosen dituntut produktif, energik, dan inspiratif; mahasiswa dituntut cerdas, cepat beradaptasi, dan kompetitif. Tetapi jarang sekali kita diajarkan bagaimana menjaga jiwa tetap utuh di tengah semua tuntutan itu.
Kita berlomba membentuk mahasiswa yang cerdas secara akademik tetapi kadang lupa bahwa mereka (dan bahkan kita sendiri) juga butuh kecerdasan emosional untuk bertahan.
Di sinilah saya percaya, dalam hiruk-pikuk regulasi dan dinamika akademik, ada tiga alat sederhana namun dahsyat yang sering kita abaikan, ketiganya adalah: Sastra, Pikiran, dan Kecerdasan Emosional.
Sastra : Ruang Aman untuk Merasa (Merekam Luka yang Tak Diucapkan)
Sastra bukan sekadar teks, ia adalah jendela kecil yang membuka dunia emosi manusia.
Ketika kita menyelami novel atau cerpen, kita seakan diberi kesempatan meminjam mata orang lain, seseorang dari latar yang berbeda, dengan pengalaman yang mungkin tidak akan pernah kita alami. Kita ikut merasakan keresahan tokohnya, luka batinnya, ketakutannya, hingga keberaniannya mengambil keputusan sulit.










