BERITAPERS || MAKASSAR – Suasana Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Sulawesi Selatan di Hotel Claro Makassar, Sabtu (18/7/2026), diwarnai kabar yang mengejutkan. Di tengah agenda penentuan nahkoda baru Partai Golkar Sulsel, Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Maros, Suhartina Bohari, secara resmi mengumumkan mengakhiri kepemimpinannya dan tidak akan kembali mencalonkan diri pada Musda DPD II Golkar Maros mendatang.
Keputusan itu menjadi salah satu dinamika politik paling menyita perhatian. Sosok yang selama ini memimpin dan mengawal perjalanan Golkar Maros memilih menutup lembaran kepemimpinannya saat partai berlambang pohon beringin sedang memasuki fase konsolidasi besar menuju Pemilu 2029.
Suhartina menegaskan, masa jabatannya memang telah berakhir sejak Juni 2026. Sesuai mekanisme organisasi, Surat Keputusan (SK) kepengurusannya tidak diperpanjang hingga pelaksanaan Musda DPD II.
“SK saya memang selesai pada bulan Juni. Tidak ada perpanjangan. Mekanismenya setelah Musda DPD I Sulsel selesai, baru dilanjutkan Musda DPD II,” ungkap Suhartina.
Tak hanya mengakhiri masa jabatan, Suhartina juga memastikan dirinya tidak akan ikut bertarung memperebutkan kembali kursi Ketua DPD II Golkar Maros.
“Saya menyatakan sikap mundur. Pada Musda DPD II Maros nanti saya tidak mencalonkan diri lagi sebagai ketua,” tegasnya.
Menurut Suhartina, keputusan tersebut bukan karena dinamika internal partai ataupun persoalan politik. Ia mengaku harus fokus pada pekerjaan yang mengharuskannya berada di luar struktur partai untuk sementara waktu.
“Ada pekerjaan saya yang mewajibkan saya untuk nonpartai dulu,” katanya.»
Yang menarik, Suhartina juga menolak memberikan dukungan kepada kandidat tertentu. Ia memilih menyerahkan sepenuhnya proses pemilihan kepada kader-kader Golkar Maros secara terbuka.
“Saya tidak punya calon. Siapa pun yang ingin maju silakan. Semua pintu terbuka. Tidak ada monopoli dan tidak ada intervensi,” tandasnya.
Pernyataan tersebut dinilai sebagai pesan kuat bahwa regenerasi kepemimpinan harus berjalan secara demokratis, tanpa tekanan maupun pengaruh dari pihak mana pun. Sikap itu sekaligus membuka ruang kompetisi yang sehat bagi seluruh kader terbaik Golkar Maros.
Mundurnya Suhartina diperkirakan akan mengubah peta politik internal Partai Golkar di Kabupaten Maros. Musda DPD II yang akan digelar setelah rampungnya Musda DPD I Sulsel diprediksi berlangsung lebih dinamis karena untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir kursi ketua berada dalam posisi terbuka.
Kini perhatian kader Golkar tertuju pada siapa figur yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan partai di Kabupaten Maros. Satu hal yang pasti, keputusan Suhartina Bohari menandai berakhirnya satu era kepemimpinan sekaligus menjadi awal babak baru regenerasi Partai Golkar Maros.
Laporan: Syamsir





















Discussion about this post