BeritaPers. Opini || Pembelajaran kontekstual sering dipahami secara sempit, seperti guru memberi contoh yang dekat dengan kehidupan siswa, lalu dianggap sudah kontekstual. Padahal, pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) bukan sekadar menempelkan ilustrasi sehari-hari pada materi. CTL merupakan desain strategi pembelajaran yang membantu peserta didik mengaitkan pengetahuan dengan konteks hidupnya sehingga pembelajaran menjadi bermakna, karena peserta didik memahami “untuk apa” dan “bagaimana digunakan” dalam situasi nyata. Rumusan ini sejalan dengan gagasan CTL sebagai proses yang membantu peserta didik menghubungkan materi dengan konteks kehidupan sehari-hari.
Pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), CTL memiliki urgensi khusus. PAI bukan hanya transfer pengetahuan (misalnya definisi akhlak atau rukun ibadah), tetapi pembentukan cara pandang dan kebiasaan. Tanpa konteks, PAI jadi hafalan normatif yang rapuh: benar dalam teks, tetapi lemah saat diuji dalam pergaulan, media sosial, dan pilihan hidup harian.
Agar Contextual Teaching and Learning realistis dengan kondisi sekolah sesuai target kurikulum, maka sebaiknya Langkah penerapannya:
1. Kontekstual Minimal: “Contextual Cueing” (Mengaitkan Makna); Tahap paling dasar yakni mengaitkan konsep PAI dengan situasi yang betul-betul dialami peserta didik. Misalnya, materi tabayyun tidak dibuka dengan definisi, tetapi dengan fenomena: berita kelas yang cepat menyebar di grup. Guru kemudian “memetakan” konsep: apa itu prasangka, ghibah, fitnah, klarifikasi, dan konsekuensi sosialnya. Pada level ini, CTL menguatkan meaning-making—peserta didik paham mengapa topik ini penting, bukan sekadar menghafal istilah. Pada tahap ini pula konteks hanya jadi “pemanis” di awal, lalu pembelajaran kembali ceramah penuh. Jika hal ini terjadi, maka Contextual Teaching and Learning belum berjalan sesungguhnya.
2. Kontekstual Menengah: Tugas Berbasis Situasi (Inkuiri + Questioning). Pada tahap ini, peserta didik tidak hanya mendengar konteks, tetapi memecahkan situasi dengan rujukan yang akurat. Guru menyiapkan kasus, pertanyaan pemandu, dan sumber materi (ayat/hadis/kaidah yang sesuai). Selanjutnya peserta ddik bekerja untuk menyusun klaim–bukti–alasan. Di sinilah dua komponen Contextual Teaching and Learning menjadi kunci: inquiri dan questioning. Peserta didik belajar menemukan dan menguji, bukan menerima jawaban. Komponen Contextual Teaching and Learning ini lazim dirumuskan sebagai bagian inti CTL. Beberapa contoh pokok bahasan PAI yang dapat digunakan pada strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning, seperti: (1) akhlak digital (tabayyun, adab komentar, menjaga kehormatan orang); (2) fikih ibadah dalam kondisi nyata (wudhu di sekolah dengan keterbatasan fasilitas; adab di musholla); muamalah sederhana (praktik jual beli online, transparansi, amanah).
3. Contekstual Kuat: “Learning Community” dan Pemodelan Perilaku; Contextual Teaching and Learning pada tahapan ini menuntut pembelajaran tidak hanya terjadi antara guru–peserta didik, tetapi juga melalui learning community—peserta didik belajar dari teman, kelompok, dan sumber lain yang relevan. Konsep ini sejalan dengan gagasan “masyarakat belajar” sebagai komponen Contextual Teaching and Learning, di mana hasil belajar diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain, tidak semata dari guru. Melalui learning community dapat dibangun: (a) diskusi berbasis aturan (adab ikhtilaf, menghargai pendapat); (b) kolaborasi produk (panduan adab digital kelas, poster etika, standar operasional pelayanan kebersihan musholla); (c) keterlibatan pihak sekolah sebagai modeling, seperti guru menampilkan cara berargumen yang santun, cara merujuk dalil dengan tepat, dan cara mengakui kekeliruan.
Kontekstual Komprehensif: Refleksi dan Penilaian Autentik: Banyak pembelajaran PAI berhenti pada “tahu yang benar”, tetapi gagal dalam aspek “dapat dan mampu melakukan yang benar”. Contextual Teaching and Learning menutup celah ini melalui reflection dan authentic assessment—penilaian yang menilai performa nyata, bukan hanya jawaban pilihan ganda. Bentuk praktisnya pada pembelajaran PAI, seperti: jurnal refleksi (apa yang berubah dari cara pandang peserta didik), penilaian produk (kode etik kelas, prosedur adab, rencana aksi), observasi perilaku (misalnya adab antre wudhu, adab komentar pada simulasi), rubrik argumentasi.
Dengan demikian penerapan strategi pembelajaran kontekstual pada pembelajaran PAI dapat mengembalikan PAI ke fungsi utamanya, yakni: membentuk pemahaman yang bermakna dan berperilaku yang bertanggung jawab. Bentangan penerapannya dapat dilihat dari mengaitkan makna, membangun tugas berbasis situasional, menguatkan learning community dan modeling, hingga refleksi yang didukung penilaian autentik.
Terima kasih, Allahu a’lam bissawab.
Penulis : Dr. Usman, M.Pd
Dosen Prodi PAI FTK UINAM, Ketua Prodi PPG






















Discussion about this post