BeritaPers. Opini – Di zaman yang serba digital ini, ada satu hal yang terasa semakin langka dan sulit dilakukan yaitu diam. Bukan sekadar diam dalam arti tidak berbicara, tetapi diam dalam arti yang lebih luas. Diam dari hiruk-pikuk informasi, diam dari notifikasi yang tak pernah berhenti, dan diam dari dorongan untuk terus terhubung dengan dunia maya.
Coba bayangkan, kapan terakhir kali kita benar-benar duduk tenang, tanpa menyentuh ponsel, tanpa menggulir layar, tanpa terganggu oleh notifikasi apapun? Rasanya sulit, bukan? Kita seolah-olah terikat oleh rantai digital yang tak terlihat, selalu merasa perlu untuk melihat apa yang sedang terjadi di dunia maya.
Media sosial telah mengubah cara kita menjalani hidup. Dulu, kita sibuk karena pekerjaan atau aktivitas nyata. Sekarang, kita sibuk karena ketagihan melihat orang lain sibuk. Kita melihat orang lain memamerkan kehidupan mereka, dan tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri kita dengan mereka. Kita merasa kurang bahagia, kurang sukses, atau kurang menarik.
Waktu kita habis begitu saja, tersedot oleh pusaran informasi yang tak berujung. Kita lupa siapa diri kita sebenarnya, apa yang kita inginkan, dan apa yang benar-benar penting bagi kita. Pikiran kita penuh dengan informasi yang belum tentu bermanfaat, dan hati kita gelisah karena terlalu banyak membandingkan diri dengan orang lain.
Ramadhan hadir sebagai pengingat untuk menahan diri, untuk mengendalikan nafsu. Namun, ada satu nafsu yang sering kita abaikan, yaitu nafsu untuk terus terhubung dengan dunia digital. Kita terbiasa membuka media sosial tanpa berpikir, menggulir layar tanpa arah, dan menyerap terlalu banyak informasi yang tidak kita butuhkan.






















Discussion about this post