Seperti yang ditulis oleh Cal Newport dalam bukunya “Digital Minimalism”, teknologi seharusnya menjadi alat, bukan tuan. Kita seharusnya mengendalikan media sosial, bukan sebaliknya. Namun, kenyataannya, banyak dari kita yang kehilangan kendali. Kita menjadi budak teknologi, selalu merasa perlu untuk online, selalu ingin tahu apa yang sedang terjadi, dan selalu ingin terlibat dalam percakapan digital.
Padahal, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Kita sering menghabiskannya untuk hal-hal yang tidak benar-benar berarti. Penelitian menunjukkan bahwa terlalu banyak waktu di media sosial dapat berdampak negatif pada kesehatan mental, menyebabkan kecemasan, perasaan tidak cukup baik, dan bahkan depresi.
Banyak orang menganggap media sosial sebagai hiburan. Namun, semakin lama kita berada di sana, semakin gelisah hati kita. Mungkin karena kita terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain, atau karena kita terlalu banyak menyerap informasi yang melelahkan. Atau mungkin, karena kita jarang memberi ruang bagi diri sendiri untuk sekadar diam dan merasa cukup.
Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk menguji ketahanan diri, bukan hanya dalam hal makanan dan minuman, tetapi juga dalam hal-hal yang mengganggu ketenangan hati. Jika kita bisa berpuasa dari makanan dan minuman selama lebih dari 12 jam, mengapa kita tidak mencoba berpuasa dari media sosial?
Tidak perlu ekstrem. Cukup satu bulan tanpa menggulir layar tanpa alasan, tanpa menyerap drama yang bukan milik kita, dan tanpa merasa perlu selalu tahu segalanya. Awalnya mungkin terasa canggung, tetapi lambat laun, kita akan mulai menyadari perubahan positif. Hari-hari akan terasa lebih panjang, pikiran lebih ringan, dan waktu yang biasanya habis untuk melihat kehidupan orang lain dapat diisi dengan hal-hal yang lebih nyata.






















Discussion about this post