Ketika seorang dosen di sebuah universitas negeri yang para mahasiswanya mayoritas adalah Islam, mengawali pelajaran atau mata kuliahnya dengan membaca Al-Faatihah, sudah bisa dipastikan orang itu disebut sebagai dosen aneh.
Ketika seorang pegawai negeri yang punya kedudukan dan power birokrasi hidupnya pas-pasan, karena punya prinsip untuk tidak korupsi, pastilah ada orang yang menyayangkannya, atau bisa jadi istrinya sendiri menganggapnya sebagai suami yang aneh, pegawai negeri yang terlalu jujur.
Ketika calon ratu dunia karena mendapatkan hidayah kemudian memakai jilbab, pastilah dengan semangat, kita akan menudingnya sebagai putri ayu yang aneh.
Kepada orang-orang aneh seperti itu Rasulullah bersabda, “Berbahagialah orang aneh, yaitu orang yang mampu mengisi apa yang hilang, melengkapi apa yang ganjil, dan memenuhi apa yang kosong”.
Suatu saat Umar bin Abdul Azis, seorang Gubernur di Siria sedang lembur menyelesaikan tugas-tugas kenegaraan. Kemudian putranya tercinta datang mengetuk pintu kamar kerjanya. Umar berkata, “Wahai ananda, adakah yang sangat penting akan engkau sampaikan, sehingga engkau datang menyusulku kemari ?” Dijawab oleh putranya, “Benar ayahanda, ada urusan keluarga yang harus kita bicarakan karena sangat mendesak dan urgent”.






















Discussion about this post