Perkembangan yang dicapai tidak bersifat instan, namun berlangsung secara bertahap. Bilal mulai lebih konsisten dalam membaca suku kata dan berani mengulang bacaan ketika melakukan kesalahan. Nur Aulia menunjukkan peningkatan dalam pengaturan tempo dan keberanian membaca di depan teman-temannya. Mutiara semakin mampu mempertahankan fokus dan membaca dengan lebih teliti. Meskipun peningkatan tersebut belum sepenuhnya stabil, perubahan kecil yang terjadi menjadi indikator bahwa pendampingan yang tepat dan konsisten dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan literasi anak.
Lebih dari sekadar peningkatan kemampuan membaca, pengabdian ini memberikan pelajaran penting tentang peran guru dalam kehidupan sehari-hari siswa. Selama pendampingan, kami tidak hanya membantu siswa membaca dan menulis, tetapi juga memperbaiki seragam mereka, menenangkan ketika terjadi perselisihan, dan mendengarkan cerita-cerita sederhana dari dunia anak-anak. Dari sini kami memahami bahwa guru bukan hanya pengajar, melainkan figur yang hadir secara emosional dan sosial dalam kehidupan peserta didik.
Pada pertemuan terakhir, suasana kelas terasa berbeda. Ada kehangatan sekaligus kesedihan karena kebersamaan akan segera berakhir. Sebagai bentuk apresiasi, kami membagikan perlengkapan belajar sederhana kepada siswa dan mengajak mereka menuliskan kesan serta pesan selama pendampingan berlangsung. Ekspresi mereka beragam—ada yang antusias, ada yang malu-malu, bahkan ada yang menahan haru. Momen perpisahan tersebut menjadi refleksi mendalam bagi kami bahwa perhatian sederhana dan kehadiran yang konsisten dapat meninggalkan kesan yang bermakna bagi anak-anak.
Wali kelas, Ibu Azmi Insyani Syam, S.Pd., Gr., menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang dilakukan. Menurut beliau, kehadiran mahasiswa sangat membantu siswa yang belum lancar membaca dan menulis, serta memberikan suasana belajar yang lebih menyenangkan. Apresiasi tersebut semakin menguatkan keyakinan kami bahwa kolaborasi antara mahasiswa, guru, dan sekolah memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan literasi peserta didik.
Pengabdian ini mengajarkan kami bahwa perubahan besar dalam pendidikan tidak selalu dimulai dari program yang megah. Terkadang, perubahan itu bermula dari langkah-langkah kecil: satu anak yang berani membaca, satu kesalahan yang diperbaiki dengan sabar, dan satu kelas yang merasa aman untuk belajar. Langkah-langkah sederhana yang dilakukan dengan ketulusan dapat menjadi pondasi bagi masa depan pendidikan yang lebih baik.






















Discussion about this post