BeritaPers. Opini – Menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan sebuah panggilan yang menuntut kesabaran, keikhlasan, dan ketulusan. Guru adalah akar dari segala proses pendidikan. Tidak ada individu yang berhasil tanpa sentuhan seorang guru, meskipun sering kali peran tersebut luput dari sorotan. Terutama di jenjang sekolah dasar, guru memegang peranan krusial dalam membentuk kemampuan dasar sekaligus karakter peserta didik.
Kesadaran inilah yang kami rasakan ketika mengikuti kegiatan observasi dan pengabdian melalui mata kuliah Literasi Kelas Awal Kegiatan ini menjadi pengalaman pertama kami terjun langsung ke ruang kelas sebagai calon pendidik. Lebih dari sekadar memenuhi kewajiban akademik, pengabdian ini membuka ruang pembelajaran nyata tentang dunia guru, keberagaman karakter siswa, serta pentingnya pendekatan pembelajaran yang humanis dan menyenangkan.

Pengabdian dilaksanakan di SD Inpres Ballinappang Gowa, khususnya di kelas III. Sejak pertemuan awal, kami menyadari bahwa kemampuan literasi siswa berkembang dengan kecepatan yang berbeda-beda. Ada siswa yang telah mampu membaca dengan cukup lancar, namun ada pula yang masih berada pada tahap membaca permulaan dan membutuhkan pendampingan intensif. Realitas ini mempertegas bahwa literasi tidak dapat disamaratakan, melainkan harus dipahami sebagai proses individual yang sangat dipengaruhi oleh kondisi emosional dan lingkungan belajar anak.
Dari hasil observasi awal, kami menetapkan tiga siswa sebagai fokus pendampingan literasi, yaitu Bilal, Mutiara, dan Nur Aulia. Ketiganya memiliki karakter dan kebutuhan belajar yang berbeda. Bilal menunjukkan kesulitan dalam mengeja dan sering kehilangan fokus, Mutiara cenderung mudah terdistraksi meskipun memiliki potensi membaca yang baik, sedangkan Nur Aulia sudah mampu membaca dasar tetapi kurang percaya diri dan belum mampu mengatur tempo serta intonasi membaca.
Pendampingan literasi dilakukan secara bertahap selama beberapa pertemuan dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa. Untuk Bilal, fokus pendampingan diarahkan pada latihan fonik dan pengulangan suku kata agar ia lebih teliti dalam membaca. Pendekatan ini disertai penguatan positif untuk menumbuhkan keberanian dan kepercayaan diri. Pada Nur Aulia, pendampingan dilakukan melalui membaca terpandu dengan penekanan pada pengaturan tempo, pemahaman tanda baca, dan kesiapan emosional saat membaca di depan kelas. Sementara itu, Mutiara didampingi dengan metode bermain sambil belajar dan aktivitas multisensori seperti kartu suku kata dan permainan fonik agar konsentrasinya lebih stabil.






















Discussion about this post