BeritaPers. Opini || Seminggu berjalan, fokus kita mulai bergeser secara ekstrem. Niat awal untuk menyucikan jiwa mulai terdistraksi oleh notifikasi “Mega Sale” dan diskon baju lebaran. Ini adalah titik di mana spiritualitas mulai kalah telak oleh kapitalisme. Ramadhan yang seharusnya menjadi bulan anti-konsumsi justru berubah menjadi puncak perayaan belanja nasional.
Kenapa kita merasa harus memakai baju baru untuk merayakan kemenangan jiwa? Apakah kemenangan itu ada di serat kain atau di dalam karakter? Kita seringkali mengutuk setan yang dibelenggu, padahal setan sesungguhnya ada di keranjang belanja daring kita yang penuh dengan barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan, tapi kita inginkan demi gengsi saat mudik nanti.
Lebaran telah menjadi ajang pamer pencapaian material. Pendidikan kita gagal memisahkan antara kebahagiaan sejati dan validasi sosial lewat benda. Kita bekerja keras sebulan penuh menahan lapar, hanya untuk menghabiskan tabungan dalam satu malam demi terlihat “sukses” di depan tetangga desa. Ini adalah siklus kegilaan yang kita sebut tradisi.
Dunia industri tahu betul cara memanfaatkan rasa bersalah dan kerinduan kita. Mereka membungkus produk dengan label “halal” atau “nuansa religi” agar kita merasa sedang beribadah saat sedang berbelanja. Kita sedang dididik menjadi konsumen yang patuh, bukan hamba yang bertaqwa. Kesederhanaan hanya jadi jargon yang diucapkan saat tadarus, tapi dilupakan saat masuk ke pusat perbelanjaan.
Coba evaluasi lagi apa yang benar-benar kamu butuhkan. Jika lebaranmu terasa hampa tanpa sepatu baru, mungkin yang perlu diperbaiki bukan penampilanmu, tapi cara berpikirmu tentang nilai diri. Jangan sampai puasamu hanya menyisakan struk belanja dan saldo ATM yang mengenaskan.






















Discussion about this post