BeritaPers, Opini – Penyakit sombong atau takabur adalah pangkal dari segala penyakit yang nista. Kehancuran Iblis dimata Allah dikarenakan sikap dirinya yang sombong . Tatkala seluruh malaikat mengakui keunggulan Nabi Adam a.s. sebagai ciptaan Allah, maka Iblis (ada yang menafsirkan Iblis, artinya ablasa yang bermakna membangkang) karena dia membangkang atas perintah Allah dikarenakan oleh kesombongan dirinya dan berkata : “untuk apa aku harus hormat kepada Adam, aku diciptakan dari api sedangkan Adam diciptakan dari tanah!” Iblis membanggakan asal muasalnyya, dia merasa betapa api lebih unggul dari tanah.Disinilah pangkal kesombongan itu hadir. Sejarah juga membuktikan bahwa Firaun hancur ditelan lautan, dikarenakan kesombongannya yang melangit, bahkan tidak kepalang tanggung dia mengaku dirinya sebagai Tuhan yang paling tinggi, Kekuasaannyya dipakai untuk memperkokoh kedudukan dirinya, tidak ada satu manusiapun diijinkan untuk berbeda pendapat dengan dirinya .
Maka kesombongan itulah yang menyebakan Firaun binasa, sebagaimana direkam dalam Al Qur’an : “Sesungguhnya firaun berbuat sombong di muka bumi, diopecahnya masyarakat mnenjadi bermacam-macam golongan, sebagian menindas golongan yang lain, membunuh anak laki-laki dan membiarkan perempuannya. Sesungguhnya ia termasuk orang yang berbuat kerusakan” (Q.S. Al Qhasas: 4 ).
Rasa sombong, merasa diri yang paling segalanya, bisa saja dikarenakan oleh harta, pangkat martabat, keturunan, ilmu, wajah dan segala sesuatu yang diangap manusia mempunyai nilai . Sesungguuhnya, manusia cenderung untuk lupa diri, pada saat dia berada dalam satu tingkat yang dinilainya lebih dari orang lain. Bahkan dengan sangat jelas, diingatkan oleh Allah dalam Al Qur’an : ”Sesungguhnya manusia itu sewenang-sewenang bila ia merasa dirinya berkecukupan” (Q.S. Al Alaq : 6-7). Seseorang bisa saja terperangkap dalam penyakit sombong, pada saat dia menjadi budak Al Gengsi wal Status. Demi menjaga gengsi, dia tidak mau bergaul dengan orang yang dia anggap tidak level. Dia pilih tamu yang datang, apakah tamu ini bakal membawa hoki keberuntungan atau malah hanya membawa kertas sumbangan .
Senyum renyah, sopan dan penuh santun, rasa hangat berhamburan mengisi seluruh ruang tamu, pada saat berhadapan dengan orang satu level, tetapi sebaliknya, wajahnya mendadak dingin, bicara seperlunya, dan tampak gelisah, karena dia berhadapan dengan si Baso tukang gali sumur. Untuk ini kita tentu akan segera menangkis dan dengan gesit seraya berlogika : ” ini kan jaman modern bung, segalanya serba praktis, pragmatis dan ekonomis, kita tidak bisa melayani semua orang sama, kita toh harus bisa menempatkan sesorang sesuai dengan statusnya dong!”. Ucapan tersebut adalah ucapan seorang matrialistis, yang hanya melihat business just the sake for business. Manusia dipandang sebagai benda komoditi yang baru punya nilai apabila diklasifikasikan dengan nilai rupiah atau dollar, lebih dari itu, manusia hanyalah seonggok daging tak berharga. Bukan main!.
Sebenarnya apabila dilihat dari rasa religious, berlogika seperti ini rasanya memang tidak pantas diucapkan. Apalagi ajaran Islam dengan tandas, tidak boleh membedakan manusia menurut ukuran apapun, karena nilai dan harga manusia adalah taqwanya innaa akromakum indallahi atqookum. Dengan ayat ini, kita diajarkan untuk bersikap santun kepada siapapun, karena keberadaan kita dikarenakan adanya orang lain. Mana mungkin seseorang disebut Kaya apabila tidak ada orang miskin. Justru karena ada si miskin itulah, status dan identitas kaya menjadi sah!. Maka pantaslah Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya orang yang akan menolong dan memberi rejeki bagimu adalah orang-orang lemah (dzu’afa)diantara kamu.” Apakah pernah terpikirkan, bahwa nasi yang ada dipiring yang digelar diatas meja mewah itu , awalnya dari hasil keringat petani, orang-orang yang sering terlupakan?






















Discussion about this post