Cobalah sesekali kita simak, tatkala sebuah gedung mewah bertingkat selesai dibangun, upacara digelar dengan wah, semua yang berjasa mendapat kalungan bunga, anggur dan simponi kebahagiaan bergema. Tetapi pada saat itu, dimanakah wahai kuli bangunan dan para tukang cat tembok?. Padahal, tanpa kuli dan tukang cat tembok, apakah mungkin bangunan mewah itu berdiri? Pantaslah ajaran Islam begitu luhurnya, menghargai betul peranan kaum miskin ini, bahkan dalam setiap harta kita sesungguhnya ada hak orang miskin, diminta maupun tidak. Maka mereka yang tidak mau bersedekah, menyisihkan sebagain hartanya untuk zakat, sesungguhnya telah melakukan tindakan korupsi mental yang sangat dinista Allah.
Begitu telitinya ajaran Islam akan persamaan hak, dan menghindarkan diri dari kesombongan, sampai-sampai Nabi sendiri pernah ditegur Allah, ketika beliau berwajah masam dan memalingkan muka ketika berhadapan dengan Ummi Maktum, yang buta dan miskin. Teguran Allah ini, suatu bukti bahwa Nabi senantiasa terpelihara dari jebakan kesombongan, dan sekaligus sebagai i’tibar bagi kita kaum muslimin. Islam memandang semua manusia adalah sama, tidak ada yang satu lebih super dari yang lain, kecuali taqwanya. Itulah sebabnya, Islam membawa angin segar dalam peradaban dunia, ketika ajaran pembebasan budak dan perhatiannya kepada kaum lemah telah mengganggu budaya dan peradaban Imperium Romawi, Quraisy Jahili , dan segala tatanan adat istiadat yang meremehkan harga diri manusia.
Suatu ketika, karena khilaf Abu Dzar memanggil Bilal dengan sebutan Hai anak perempuan hitam!. Jangan sombong Pada saat itu didengar oleh Rasul, dan sambil menepuk bahu Abu Dzar, beliau bersabda : “Terlalu, sungguh terlalu , ketahuilah wahai Abu Dzar sesungguhnya tidak ada kelebihan orang putih atas orang hitam , kecuali amal salehnya “. Kemudian Abu Dzar menjatuhkan dirinya ditanah, dan menempelkan pipinya diatas debu, dan dimintanyya Bilal menginjak kepalanya sebagai tebusan atas kesombongannya. Abu Dzar sangat paham bahwa didalam Islam menyombongkan diri karena keturunan adalah dosa besar.
Tidak ada Bangsa Aria, tidak ada Uber Alles, tidak ada satu keyakinanpun ditanamkan dalam ajaran Islam bahwa ada suatu bangsa menjadi yang dikatagorikan sebagai bangsa unggul karena ukuran warna kulit atau karena keturunan Dewa. itu semua hanya legenda isapan jempol untuk membangun chauvinisme belaka. Disamping karena memuja dan menjadi budak Al Gengsi wal takabbur bisa juga dikarenakan menganggap remeh orang lain. Tidak mau mendengarkan hikmah kebenaran, apalagi nasihat yang datangnya dari orang yang dia anggap tidak level. Rasulullah bersabda : tidak akan masuk surga yang diliatinya terdapat seberat debu dari sifat kesombongan. (HR Muslim ).
Bayangkan! betapa bahayanya sifat sombong ini, walau hanya seberat debu, didalam hati, tersembunyi dan sangat pribadi sifatnya, ternyata tidak dijamin untuk mendapatkan Rahmmat dan Maghfirah Allah.






















Discussion about this post