Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang disebut kuat bukan karena menang duel. Orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.” Media sosial sering kali memancing emosi, membuat kita mudah marah, iri, dan lelah dengan informasi yang tidak perlu. Semakin kita bisa menjaga diri dari hal-hal yang mengganggu ketenangan, semakin kita bisa fokus pada hal yang benar-benar penting.
Berpuasa dari media sosial bukan berarti menghilangkan teknologi dari hidup kita. Ini tentang mengambil kendali, menggunakan media sosial dengan sadar, dan memutuskan kapan kita benar-benar membutuhkannya.
Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” Di era digital ini, informasi datang begitu cepat, tetapi tidak semuanya benar atau penting.
Kita sering terjebak dalam pusaran berita yang melelahkan, ikut terseret dalam perdebatan yang tidak perlu, dan akhirnya hanya merasa jenuh tanpa makna. Jika kita bisa melewati Ramadhan dengan menahan diri dari hal-hal yang lebih sulit, mengapa kita tidak mencoba mengurangi sesuatu yang lebih sederhana?
Di era digital ini, menjaga diri bukan hanya soal menutup aurat, tetapi juga menjaga mata dari layar yang berlebihan, menjaga hati dari perasaan yang tidak perlu, dan menjaga telinga dari gosip digital yang tidak jelas ujungnya. Dulu, setan membisikkan godaan di telinga. Sekarang, ia hadir dalam bentuk unggahan, komentar, dan tren yang menggoda kita untuk terus terlibat.






















Discussion about this post