Semua tekanan ini tekanan akademik, tuntutan sosial, krisis finansial bercampur menjadi satu dan menghasilkan monster stres yang siap meledak kapan saja. Jika emosimu tidak terkelola, sistem operasimu (otakmu) akan crash, dan seluruh proyek kuliahmu akan terhenti.
Masalah utamanya adalah mahasiswa sering mengabaikan sinyal bahaya emosional. Kita diajarkan untuk “kuat” dan “tahan banting” sehingga kita menumpuk rasa cemas, lelah, dan frustrasi di laci hati. Kita terus mendorong diri sampai mencapai batas maksimal, dan ketika satu hal kecil terjadi (seperti Wi-Fi tiba-tiba mati), seluruh emosi yang terpendam itu meledak dalam tangisan publik, atau yang lebih buruk, jadi serangan panik yang tidak terkontrol.

Ini adalah skenario yang sangat manusiawi dan ekstrem: Pernahkah kamu menangis di kamar mandi kosan hanya karena deadline tugasmu jatuh di hari yang sama dengan deadline bayar uang kos, dan kamu baru saja menjatuhkan mi instan yang seharusnya jadi makan malam terakhirmu? Momen itu terasa seperti finalis piala dunia yang gagal mencetak gol penalti di detik terakhir pertandingan.
Atau, momen meltdown publik di perpustakaan, ketika kamu membanting buku karena error coding yang tidak terselesaikan selama enam jam. Reaksi yang berlebihan itu sejatinya adalah jeritan minta tolong dari jiwamu yang sudah lelah.
Untuk mengelola emosi, kamu harus menjadi penjaga batas (Boundary Setter) yang tegas. Langkah pertama adalah Mindfulness: sadari apa yang kamu rasakan, akui, dan beri nama (“Aku cemas,” “Aku lelah”). Langkah kedua, Belajar Berkata “Tidak”. Kamu tidak harus mengambil semua tanggung jawab organisasi, semua project sambilan, dan semua ajakan hangout. Ketahui batas energimu, dan lindungi batas itu seperti menjaga rahasia negara. Prioritaskan tidur, self-care, dan waktu luang yang berkualitas.






















Discussion about this post