Setiap cerita tentang tokoh yang bangkit kembali, setiap puisi tentang harapan, setiap alur yang memperlihatkan seseorang menemukan kembali dirinya, semua itu adalah “sugesti positif” yang bekerja halus di pikiran.
Bagi banyak dosen yang saya temui, tekanan profesional sering membuat mereka lupa bahwa nilai diri bukan ditentukan oleh angka kredit, narasi penilaian, atau indikator-indikator administratif, melainkan oleh kualitas hatinya dalam mengajar dan mendampingi manusia lain.
Sastra dan hipnoterapi sama-sama mengingatkan kita bahwa kita bisa menulis ulang cerita hidup kita kapan saja.
Kecerdasan Emosional : Jembatan Menuju Keseimbangan
Sastra melatih rasa, pikiran melatih narasi, dan keduanya bertemu dalam satu ruang besar bernama Kecerdasan Emosional (KE).
Dari sastra, kita belajar mengenali emosi yang kompleks dan ini memperkuat kesadaran diri. Dari narasi batin, kita belajar mengelola reaksi kita dan ini yang memperkuat regulasi emosi.
Dari empati, kita belajar memahami orang lain dan ini memperkuat hubungan sosial.
Ketika seorang dosen hadir dengan KE yang sehat, kelas bukan lagi ruang pengajaran, tapi ruang pertemuan manusia dengan manusia.










