• Landing Page
  • Shop
  • Contact
  • Buy JNews
Rabu, September 23, 2026
  • Login
Beritapers
  • Home
  • Kesehatan
  • Politik
  • Bisnis
  • Dunia
  • Tehnologi
  • Market
  • Finance
  • Investing
No Result
View All Result
  • Home
  • Kesehatan
  • Politik
  • Bisnis
  • Dunia
  • Tehnologi
  • Market
  • Finance
  • Investing
No Result
View All Result
Beritapers
No Result
View All Result
  • Home
  • Kesehatan
  • Politik
  • Bisnis
  • Dunia
  • Tehnologi
  • Market
  • Finance
  • Investing
Home Berita Terbaru Berita Opini

Tradisi Intelektual Ramadhan dalam Sejarah Islam: Dari Iftar ke Literasi

Penulis : Syamzan Syukur

Muh. Anwar by Muh. Anwar
24 Februari 2026
in Berita Opini
Reading Time: 2 mins read
0
Tradisi Intelektual Ramadhan dalam Sejarah Islam: Dari Iftar ke Literasi
75
SHARES
1.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

BeritaPers. Opini || Ramadhan sering direduksi menjadi dua kata: sahur dan iftar. Seolah-olah bulan suci ini hanya tentang ritme lapar dan kenyang. Padahal, dalam sejarah Islam, Ramadhan adalah musim intelektual bulan ketika wahyu pertama turun, ketika teks menjadi fondasi peradaban, dan ketika literasi menjelma menjadi laku spiritual. Jika hari ini meja iftar lebih ramai daripada majelis ilmu, mungkin yang perlu kita puasakan bukan hanya perut, tetapi juga cara berpikir kita.

Sejarah mencatat bahwa pada bulan Ramadhan, di Gua Hira, wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad. Kata pertama yang mengguncang sejarah itu adalah Iqra bacalah. Sebuah perintah literasi, bukan perintah konsumsi. Dari momen itu, lahirlah tradisi intelektual yang menjadikan teks sebagai pusat gravitasi peradaban. Al-Qur’an bukan hanya kitab suci, tetapi juga kitab yang melahirkan peradaban baca-tulis, tafsir, hukum, filsafat, dan sains. Ramadhan dalam sejarah klasik bukan bulan jeda intelektual. Justru sebaliknya, ia menjadi momentum intensifikasi. Para ulama memperbanyak tadarus, diskusi, dan penulisan. Di kota-kota besar seperti Baghdad dan Kairo, masjid dan madrasah hidup oleh perdebatan ilmiah. Tradisi talaqqi dan halaqah menjadi denyut nadi Ramadhan. Lapar tidak mematikan nalar; ia justru menajamkannya.

Kita sering lupa bahwa banyak karya besar lahir dari kultur yang memuliakan teks. Dalam iklim intelektual yang dipupuk sejak masa Al-Ghazali hingga Ibn Khaldun, membaca dan menulis bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan ibadah. Ramadhan menjadi ruang kontemplasi bulan ketika manusia membersihkan jiwa sekaligus menata pikiran. Puasa bukan hanya pengendalian hasrat biologis, tetapi juga disiplin epistemologis: menahan diri dari prasangka, memperdalam makna, dan mencari hikmah. Bandingkan dengan realitas hari ini. Iftar sering menjelma menjadi festival kuliner. Undangan buka puasa lebih banyak daripada undangan diskusi buku. Linimasa media sosial dipenuhi foto hidangan, tetapi jarang kutipan reflektif. Apakah kita tanpa sadar telah menggeser pusat gravitasi Ramadhan dari literasi ke konsumsi?

Mungkin kita perlu bertanya: apakah Ramadhan masih menjadi bulan Iqra, atau telah berubah menjadi bulan iklan? Ketika diskon lebih ditunggu daripada diskursus, ketika konten viral lebih diminati daripada kitab klasik, kita sedang menyaksikan pergeseran tradisi intelektual menuju budaya instan. Bukan berarti iftar salah ia bagian dari sunnah dan kebersamaan sosial. Tetapi ketika iftar mengalahkan literasi, keseimbangan peradaban mulai goyah.Tradisi intelektual Ramadhan seharusnya tidak berhenti pada tadarus yang mekanis. Membaca Al-Qur’an bukan sekadar mengejar khatam, melainkan memahami konteks, menggali tafsir, dan menghubungkannya dengan realitas sosial. Literasi di sini bukan hanya teks suci, tetapi juga literasi sosial: membaca ketimpangan, memahami kemiskinan, dan meresponsnya dengan aksi etis.

Dalam sejarah Islam, puasa melahirkan kepekaan sosial sekaligus kedalaman intelektual. Lapar membangun empati; refleksi melahirkan gagasan. Dari kombinasi inilah lahir peradaban yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga produktif secara intelektual. Peradaban tidak tumbuh dari perut yang kenyang semata, melainkan dari pikiran yang tercerahkan.

Ramadhan hari ini masih menyimpan potensi yang sama. Bayangkan jika setiap undangan iftar disertai diskusi buku. Bayangkan jika setiap tadarus diiringi kajian tafsir kontekstual. Bayangkan jika media sosial dipenuhi rekomendasi bacaan dan refleksi kritis. Ramadhan bisa kembali menjadi musim literasi bulan ketika umat Islam tidak hanya memperbanyak doa, tetapi juga memperdalam wacana. Dari iftar ke literasi, itulah perjalanan yang perlu kita tempuh kembali. Iftar menguatkan tubuh; literasi menguatkan peradaban. Jika puasa adalah latihan menahan diri, maka literasi adalah latihan memahami diri dan dunia. Tanpa literasi, spiritualitas mudah terjebak pada simbolisme. Tanpa refleksi, ritual kehilangan daya transformasinya.

Mungkin sudah saatnya kita memaknai ulang Ramadhan sebagai bulan revolusi sunyi revolusi membaca, menulis, dan berpikir. Sebab sejarah telah membuktikan: peradaban Islam tidak dibangun di atas meja makan, tetapi di atas meja baca. Dan jika kita ingin menghidupkan kembali kejayaan intelektual itu, jawabannya sudah diucapkan sejak awal wahyu: Iqra.

Post Views: 486

Anda Mungkin Menyukai Berita ini

Bulu Saukang 332 MDPL, Pendakian Pendek, Pelajaran Panjang

Bulu Saukang 332 MDPL, Pendakian Pendek, Pelajaran Panjang

19 September 2026
Interprofessional Education (IPE), Sebuah Gagasan dalam Penyiapan Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang Dapat Bekerja Pada Satu TIM

Interprofessional Education (IPE), Sebuah Gagasan dalam Penyiapan Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang Dapat Bekerja Pada Satu TIM

17 September 2026
Maulid Nabi Muhammad SAW, Merayakan Kelahiran atau Menghidupkan Keteladanan

Maulid Nabi Muhammad SAW, Merayakan Kelahiran atau Menghidupkan Keteladanan

13 September 2026
Menyikapi Ujian: Sabar, Ikhlas, dan Tebar Kemaslahatan di Tengah Krisis Makassar

Menyikapi Ujian: Sabar, Ikhlas, dan Tebar Kemaslahatan di Tengah Krisis Makassar

13 September 2026
Ketika Sampah Jadi Media Belajar: Amelya Putri Azizah Tanamkan Cinta Lingkungan Sejak Usia Dini

Ketika Sampah Jadi Media Belajar: Amelya Putri Azizah Tanamkan Cinta Lingkungan Sejak Usia Dini

19 Agustus 2026
Tags: Berita OpiniBerita Pers
Muh. Anwar

Muh. Anwar

Dr. Muh. Anwar HM, S.Ag., M.Pd adalah seorang dosen & praktisi pendidikan, CEO ITMT Indonesia, Ketua Program Studi Manajemen di STIMI YAPMI Makassar, beliau seorang penulis, public speaker, hypnoterapist & trainer hypnoteaching, telah melakukan berbagai penelitian di bidang Hipnoteaching dan telah mempublikasikan hasilnya di jurnal nasional dan internasional. Dengan dedikasi dan kontribusinya, Muh. Anwar HM menjadi salah satu dosen yang berpengaruh di UIN Alauddin Samata dengan spesialisasi  di bidang Manajemen Pendidikan,  hypnoteaching, hypnoteraphy dan public speaking yang diakui secara nasional. Beliau terus berusaha meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian di Indonesia, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Related Posts

Bulu Saukang 332 MDPL, Pendakian Pendek, Pelajaran Panjang
Berita Opini

Bulu Saukang 332 MDPL, Pendakian Pendek, Pelajaran Panjang

by Kilang
4 hari ago
0

BeritaPers || Jangan ukur sebuah pendakian hanya dari seberapa tinggi gunung yang ditaklukkan. Sebab, tidak semua perjalanan harus berakhir di ketinggian ribuan meter untuk memberikan pengalaman yang berarti....

Interprofessional Education (IPE), Sebuah Gagasan dalam Penyiapan Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang Dapat Bekerja Pada Satu TIM
Berita Opini

Interprofessional Education (IPE), Sebuah Gagasan dalam Penyiapan Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang Dapat Bekerja Pada Satu TIM

by Kilang
6 hari ago
0

BeritaPers || Saya sering sekali mendengar dan membaca keluhan dari beberapa guru dan dosen terkait beban adminstrasi yang mereka harus jalani dalam pelaksanaan tugas mereka. Sebutlah tugas menyiapkan...

Maulid Nabi Muhammad SAW, Merayakan Kelahiran atau Menghidupkan Keteladanan

Maulid Nabi Muhammad SAW, Merayakan Kelahiran atau Menghidupkan Keteladanan

1 minggu ago
Menyikapi Ujian: Sabar, Ikhlas, dan Tebar Kemaslahatan di Tengah Krisis Makassar

Menyikapi Ujian: Sabar, Ikhlas, dan Tebar Kemaslahatan di Tengah Krisis Makassar

1 minggu ago
Ketika Sampah Jadi Media Belajar: Amelya Putri Azizah Tanamkan Cinta Lingkungan Sejak Usia Dini

Ketika Sampah Jadi Media Belajar: Amelya Putri Azizah Tanamkan Cinta Lingkungan Sejak Usia Dini

1 bulan ago
Load More

Related News

Relokasi Kuburan Adat di Kaki Latimojong: Simbol Restu Leluhur untuk Investasi Tambang

Relokasi Kuburan Adat di Kaki Latimojong: Simbol Restu Leluhur untuk Investasi Tambang

29 Juni 2025
Kemendagri : Pelayanan Pemerintahan Tidak boleh Berhenti Walau Sedetikpun

Kemendagri : Pelayanan Pemerintahan Tidak boleh Berhenti Walau Sedetikpun

11 September 2026
Salurkan Beras SPHP, Polsek KPN Polres Parepare Gunakan Pola Pelayanan Mobile

Salurkan Beras SPHP, Polsek KPN Polres Parepare Gunakan Pola Pelayanan Mobile

11 Agustus 2025

Browse by Category

  • Artikel
  • Berita Budaya
  • Berita Cuaca
  • Berita Daerah
  • Berita Desa
  • Berita Dunia
  • Berita Ekonomi
  • Berita Foto
  • Berita Hankam
  • Berita Hiburan
  • Berita Hukum
  • Berita Kampus
  • Berita Kesehatan
  • Berita Kota
  • Berita Kriminal
  • Berita Nasional
  • Berita Olahraga
  • Berita Opini
  • Berita Pemerintahan
  • Berita Pendidikan
  • Berita Peristiwa
  • Berita Polisi
  • Berita Politik
  • Berita Ragam
  • Berita Religi
  • Berita Seremonial
  • Berita Sorot
  • Berita Sosbud
  • Berita Terbaru
  • Berita TNI
  • Berita Video
  • Breaking News
  • Business
  • Crypto
  • English News
  • Finance
  • Galeri
  • Health
  • International
  • Investing
  • Market
  • Movie
  • News
  • Newsbeat
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pedoman Siber
  • Politics
  • Protest
  • Space
  • Stories
  • Tajuk Utama
  • Technology
  • Trending Topik
  • Women
  • World
Beritapers

© 2025 - 2026 Beritapers.com - All Rights Reserved

Navigate Site

  • Blog
  • Checkout
  • Disclaimer
  • Elementor
  • Home
  • Home – العربية
  • Home 7
  • Indeks Berita
  • Keranjang
  • Kode Etik
  • Kode Etik Perilaku
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Sitemap_news
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Terms of Service

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Landing Page
  • Redaksi
  • Kode Etik Perilaku
  • Kode Etik
  • Indeks Berita
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

© 2025 - 2026 Beritapers.com - All Rights Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?