Pandangan budaya di era saat ini, mestinya menegaskan bahwa budaya adalah sistem makna yang fleksibel dan dapat berubah sesuai interpretasi masyarakat.
Dengan kata lain, pelestarian budaya bukan berarti membatasi seni pada ruang-ruang lama, tetapi justru memberinya kesempatan untuk berkembang dalam konteks yang lebih luas.
Namun, dalam upaya pelestarian ini, ada aspek penting yang tidak boleh diabaikan yakni esensi filosofis yang terkandung dalam Aru itu sendiri. Salah satu simbol kuat dalam tradisi Aru adalah badik, yang memiliki makna mendalam dalam budaya Sulawesi Selatan. Filosofi badik dalam ungkapan lokal berbunyi, “Ri dallekang nu ujung, ri tangga na pamoro, na riboko nu pangulu.” Artinya, seorang pemimpin, jika berada di depan, ia harus menjadi pembuka jalan dan teladan bagi yang dipimpinnya. Jika berada di tengah, ia harus memiliki pamor, karisma, wibawa, dan kemampuan untuk mengayomi, melindungi, serta melayani rakyatnya.
Jika berada di belakang, ia menjadi penghulu, pegangan atau gagang yang mendorong kemajuan rakyatnya. Ini bukan sekedar ungkapan, tetapi prinsip kepemimpinan yang harus terus diwariskan dalam praktik Aru.
Selain itu, penting dipahami bahwa dalam esensi aslinya, Aru bukanlah untuk sembarang orang. Mereka yang melakukan Aru bukanlah individu biasa, tetapi seorang prajurit yang memiliki ilmu, dalam bahasa Makassar disebut Burakne Sulapa atau Segi Empat.










