Ini berarti seorang laki-laki yang memiliki kemampuan dalam berbagai aspek, atau dalam istilah lain disebut tau sangka, sosok yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang dalam kecerdasan, strategi, dan kebijaksanaan. Konsep ini adalah bagian tak terpisahkan dari Aru dan seharusnya menjadi bagian dari edukasi bagi mereka yang ingin melestarikan tradisi ini.
Namun, ada permasalahan lain yang muncul dalam praktik Aru belakangan ini, yakni meningkatnya kejadian tragis yang menelan korban jiwa akibat atraksi penggunaan senjata tajam, seperti badik. Tidak sedikit pelaku Aru yang mengalami luka serius, bahkan meninggal dunia karena aksi yang tidak terkendali.
Fenomena ini bukan alasan untuk menghapus Aru di acara pengantin, tetapi justru menjadi peringatan bahwa diperlukan edukasi yang lebih baik tentang esensi Aru itu sendiri.
Dalam tradisi aslinya, Aru bukanlah ajang unjuk kebolehan dalam menggunakan senjata tajam. Besi dalam budaya Sulawesi Selatan memiliki filosofi mendalam, tidak sekedar sebagai alat perang, tetapi juga sebagai simbol kehormatan dan tanggung jawab.
Oleh karena itu, mereka yang melakukan Aru harus memahami etika dalam pelaksanaannya, bukan justru menjadikannya sebagai aksi ekstrem yang berisiko tinggi. Perlu ada penegasan kembali bahwa Aru adalah bentuk ikrar seorang prajurit kepada rajanya, bukan arena pertunjukan kekerasan.










