BeritaPers. Opini || Di hari ke-28, kegelisahan mulai muncul, bukan karena takut kehilangan Ramadhan, tapi karena sudah tidak sabar untuk kembali ke kebiasaan lama. Kita mulai membayangkan rokok yang bisa diisap di siang hari, kopi yang bisa dinikmati kapan saja, dan makan siang yang tidak lagi harus sembunyi-sembunyi. Apakah puasa sebulan ini telah membangun sistem pertahanan dalam dirimu, atau hanya menjadi penjara sementara yang pintunya sebentar lagi akan terbuka lebar?
Banyak dari kita yang mengalami “euforia pembebasan” yang salah arah. Kita menganggap Idul Fitri sebagai hari di mana kita bisa membalas semua “penderitaan” selama sebulan. Pendidikan karakter melalui puasa seharusnya menciptakan kebiasaan baru (new habits), bukan sekadar penahanan sementara (temporary suppression). Jika setelah Ramadhan kamu langsung kembali menjadi manusia yang korup, pembohong, dan pemarah, maka puasamu hanyalah sebuah interupsi yang tidak berarti dalam hidupmu.
Ini adalah kegagalan internalisasi nilai. Kita hanya mengikuti jadwal, bukan mengikuti prinsip. Ramadhan seharusnya mendidik kita menjadi tuan atas diri sendiri, namun kita justru terlihat seperti budak yang sedang menunggu lonceng kebebasan berbunyi. Kita tidak sabar untuk kembali “normal”, padahal “normal” kita sebelum Ramadhan adalah kondisi yang penuh dengan penyakit hati. Ini adalah tragedi spiritual yang kita ulangi setiap tahun tanpa rasa malu.
Mari kita jujur: berapa banyak dari kita yang merasa sedih karena Ramadhan akan berakhir? Kebanyakan narasi sedih di media sosial hanyalah basa-basi agar terlihat religius. Di balik itu, kita sangat senang karena beban ibadah yang berat ini akan segera berakhir. Kita tidak merindukan Tuhan; kita merindukan kenyamanan duniawi kita yang sempat terganggu. Ini adalah provokasi bagi integritas imanmu: apakah kamu mencintai proses penyucian, atau kamu hanya mencintai status sebagai orang yang sudah berpuasa?
Berjanjilah pada dirimu sendiri untuk tidak kembali menjadi “setan” setelah lebaran nanti. Pertahankan satu saja kebiasaan baik yang kamu mulai di bulan ini. Jika kamu tidak sanggup mempertahankan satu pun, maka jangan pernah merasa telah menang di hari raya nanti. Kamu tidak menang; kamu hanya baru saja keluar dari masa hukuman yang kamu jalani dengan penuh keluhan dan ketidaksabaran.






















Discussion about this post