GOWA – Lapangan Prayudha Malino yang seharusnya menjadi saksi bisu atas kemeriahan pesta rakyat dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI, mendadak berubah menjadi arena ketegangan mencekam pada Senin, 17 Agustus 2026.
Sebuah insiden memalukan yang melibatkan seorang oknum pendidik yang diketahui merupakan kepala sekolah sd negeri pallangga kelurahan bulutana atas nama mariyanti beserta anaknya mengguncang jalannya acara dan memicu amarah warga yang menyaksikannya.
Kronologi Pemicu Amuk Massa berawal dari acara pertandingan Voli, berakhir Caci Maki dan suasana mulai memanas saat turnamen bola voli antar-RT sedang berlangsung sengit, Drama dimulai ketika salah satu tim peserta dinyatakan kalah Walk Out (WO) oleh panitia karena tak kunjung menampakkan batang hidungnya setelah dipanggil berkali-kali, tidak terima dengan keputusan tegas tersebut, gelombang protes keras langsung pecah, secara mengejutkan, oknum Kepala Sekolah SD Pallangga Kelurahan Bulutana bernama Mariyanti, bersama dua anaknya, Resky dan Rehan, nekat merangsek masuk ke tengah lapangan, tanpa canggung di depan publik, mereka diduga berteriak histeris dan mencaci-maki penyelenggara dengan kalimat kasar yakni “Panitia bodoh!” teriak mereka berulang kali di hadapan kerumunan warga yang tercengang
Aksi arogan ini langsung menuai kecaman keras dari masyarakat setempat yang menyayangkan sikap minus sang pendidik, “Ini acara kemerdekaan, harusnya jadi contoh moral yang baik..!!! Tapi kami justru disuguhi tontonan seorang pendidik yang berkoar-koar penuh arogansi di depan umum,” ungkap HS, seorang warga Malino yang menyaksikan langsung kejadian memilukan tersebut dengan nada geram.
Ketegangan kembali’ Memuncak dimana sang Ajudan Komandan Secata Malino inisial A diduga keras Layangkan Jotosan, sehingga Situasi di Lapangan Prayudha kian tak terkendali dan mencapai titik didih pasca-teriakan histeris sang kepala sekolah, Di tengah kekacauan tersebut, aksi kekerasan fisik pecah, Seorang oknum yang diduga merupakan ajudan komandan tiba-tiba melayangkan pukulan mentah ke arah seorang Captain (Panitia Pelaksana Kegiatan) berada di lokasi.
Ketegangan sempat membuat warga histeris, beruntung, sang Captain beserta istrinya memilih berjiwa besar dan tidak membalas provokasi tersebut, sehingga keributan massal yang lebih besar berhasil diredam, Akhir Drama Permintaan Maaf Terbuka di Depan Rakyat Sadar, aksinya memicu gelombang kecaman, pihak yang diduga melakukan pemukulan akhirnya meminta maaf secara terbuka di hadapan seluruh warga Malino yang memadati lokasi.
Di sisi lain, borok sang oknum kepala sekolah mulai dikuliti warga, beberapa masyarakat membeberkan bahwa tabiat arogan Mariyanti memang sudah lama meresahkan lingkungan sekitar.
Warga Malino kini mendesak adanya sanksi moral dan evaluasi total agar tindakan memalukan mencederai kesucian hari kemerdekaan tidak kembali terulang di masa depan, tutup warga Malino “.
Sampai berita ini diturunkan, Pihak Jurnalis masih berupaya mengkonfirmasi ataupun klarifikasi resmi dari pihak SD Pallangga maupun instansi vertikal terkait di Kecamatan Tinggimoncong, dan Pihak Jurnalis membuka ruang Hak Jawab kepada Para Pihak.





















Discussion about this post