BERITAPERS || WAETUOE, LANRISANG – Kepercayaan Desa Waetuoe, Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang, sebagai tuan rumah Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) tingkat Kecamatan Lanrisang dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum istimewa bagi Pemerintah Desa dan seluruh masyarakat Waetuoe.
Pembukaan Porseni yang berlangsung di Lapangan Sepak Bola Waetuoe, Sabtu, 8 Agustus 2026, berlangsung meriah dan penuh semangat kebersamaan. Kegiatan tersebut diikuti berbagai kontingen dari wilayah Kecamatan Lanrisang dan diawali dengan devile peserta yang menampilkan kekompakan, kreativitas serta semangat juang masing-masing kontingen.
Bagi Pemerintah Desa Waetuoe, menjadi tuan rumah bukan hanya sebuah kebanggaan, tetapi juga amanah untuk memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh peserta, pendamping, panitia dan masyarakat yang hadir.
Kepala Desa Waetuoe, Fahri Ishak, SE, mengungkapkan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada Desa Waetuoe.
“Kami atas nama Pemerintah Desa Waetuoe dan seluruh masyarakat merasa sangat bersyukur dan bangga karena diberikan kepercayaan menjadi tuan rumah Porseni tingkat Kecamatan Lanrisang. Ini bukan hanya kebanggaan bagi pemerintah desa, tetapi kebanggaan seluruh masyarakat Waetuoe,” ujar Fahri Ishak.
Menurutnya, Porseni harus dimaknai sebagai momentum mempererat hubungan antarmasyarakat, membangun sportivitas serta memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi mereka melalui olahraga dan seni.
“Kita ingin anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang sehat, disiplin, sportif dan memiliki rasa persaudaraan. Karena itu, jangan hanya mengejar kemenangan. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menjaga kebersamaan dan menghargai satu sama lain,” katanya.
Waetuoe Menjadi Rumah Bersama Selama Porseni
Selama pelaksanaan Porseni, Desa Waetuoe berupaya memberikan suasana yang aman, nyaman dan penuh kekeluargaan bagi seluruh kontingen.
Masyarakat turut mengambil bagian dalam menyukseskan kegiatan. Semangat gotong royong terlihat dalam berbagai persiapan dan pelayanan selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Kehadiran masyarakat yang memenuhi lokasi pertandingan menjadi gambaran bahwa olahraga dan seni mampu menjadi jembatan yang menyatukan berbagai kalangan.
Fahri menegaskan bahwa seluruh peserta yang datang ke Waetuoe bukan sekadar tamu, melainkan bagian dari keluarga besar Kecamatan Lanrisang.
“Kami ingin Waetuoe menjadi rumah bersama. Siapa pun yang datang bertanding di sini, kami sambut dengan baik. Kita boleh berbeda kontingen, berbeda sekolah, berbeda desa, tetapi kita tetap satu keluarga besar Lanrisang,” ungkapnya.
Pembukaan Porseni juga menjadi semakin istimewa dengan hadirnya unsur pemerintah, TNI dan Polri yang bersama-sama menunjukkan dukungan terhadap kegiatan masyarakat. Sinergi tersebut menjadi simbol bahwa keberhasilan pembangunan dan pembinaan generasi muda membutuhkan kerja bersama seluruh elemen.
Semangat Porseni Berlanjut Menuju Hari Kemerdekaan
Rangkaian Porseni yang digelar dalam suasana menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat Waetuoe dalam menghidupkan semangat kemerdekaan.
Berbagai pertandingan olahraga dan kegiatan seni tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang untuk menanamkan nilai-nilai perjuangan kepada generasi muda.
Di balik riuhnya sorak-sorai penonton dan persaingan di lapangan, terdapat pesan penting bahwa kemerdekaan harus diisi dengan kegiatan positif, kebersamaan dan prestasi.
Pemerintah Desa Waetuoe berharap semangat tersebut terus terjaga hingga puncak peringatan HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2026.
Bagi Fahri Ishak, tanggal 17 Agustus bukan sekadar tanggal dalam kalender. Hari Kemerdekaan merupakan momentum untuk kembali mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang dengan pengorbanan jiwa dan raga demi kemerdekaan bangsa.
17 Agustus, Momentum Sakral Pengibaran Sang Saka Merah Putih
Puncak seluruh rangkaian semangat kemerdekaan di Desa Waetuoe akan bermuara pada pelaksanaan upacara peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026.
Suasana yang sebelumnya dipenuhi kemeriahan olahraga dan seni akan berubah menjadi suasana yang lebih khidmat dan penuh penghormatan.
Di bawah kibaran Sang Saka Merah Putih, seluruh peserta upacara akan berdiri tegak, mengheningkan cipta dan mengenang kembali perjuangan para pahlawan yang telah mengantarkan Indonesia menjadi bangsa yang merdeka.
Detik-detik penaikan bendera Merah Putih menjadi salah satu momen paling sakral dalam rangkaian peringatan kemerdekaan. Ketika bendera mulai perlahan naik menuju puncak tiang, suasana di lapangan seakan berhenti sejenak.
Pandangan tertuju kepada Merah Putih.
Suara dan aktivitas masyarakat terhenti.
Yang tersisa hanyalah rasa haru, bangga dan penghormatan kepada bangsa dan negara.
Bagi masyarakat Waetuoe, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini tidak diperoleh dengan mudah. Ada keringat, air mata, pengorbanan dan perjuangan panjang para pahlawan yang harus terus dikenang oleh setiap generasi.
Kepala Desa Waetuoe, Fahri Ishak, mengajak seluruh masyarakat menjadikan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sebagai momentum memperkuat persatuan.
“Ketika Sang Saka Merah Putih dinaikkan, mari kita berhenti sejenak dan mengingat perjuangan para pahlawan. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah hasil pengorbanan mereka. Tugas kita sekarang adalah menjaga kemerdekaan itu dengan persatuan, bekerja dengan baik dan membangun desa bersama-sama,” tuturnya.
Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa.
“Jangan pernah kehilangan rasa cinta kepada tanah air. Anak-anak muda harus menjadi generasi penerus yang mampu menjaga persatuan, mengisi kemerdekaan dengan prestasi dan membawa nama baik Desa Waetuoe serta Kecamatan Lanrisang,” tambahnya.
Dari Lapangan Porseni Menuju Penghormatan kepada Merah Putih
Rangkaian kegiatan yang dimulai dengan semangat olahraga dan seni pada 8 Agustus kemudian menjadi perjalanan menuju puncak peringatan kemerdekaan pada 17 Agustus.
Dari lapangan tempat para peserta berjuang meraih prestasi, masyarakat kemudian berkumpul dalam suasana penuh kekhidmatan untuk memberikan penghormatan kepada Sang Saka Merah Putih.
Inilah makna kemerdekaan yang sesungguhnya: kegembiraan, persaudaraan, perjuangan, penghormatan dan kebersamaan yang menyatu dalam satu semangat Indonesia.
Fahri Ishak berharap seluruh rangkaian kegiatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Desa Waetuoe dapat meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat.
“Kami ingin seluruh rangkaian kegiatan ini menjadi kenangan yang baik. Mulai dari Porseni, kebersamaan masyarakat, sampai upacara 17 Agustus. Semuanya adalah bagian dari cara kita menghargai kemerdekaan dan meneruskan semangat para pahlawan,” pungkasnya.
Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan, Desa Waetuoe tidak hanya menjadi tuan rumah sebuah perhelatan olahraga dan seni, tetapi juga menjadi ruang bersama untuk merawat semangat kebangsaan.
Dari Waetuoe, semangat kemerdekaan terus berkobar. Dari generasi ke generasi, Merah Putih akan tetap berkibar sebagai simbol persatuan, perjuangan dan cinta tanah air. (MLP)




















Discussion about this post