TAKALAR, — Kasus dugaan pembunuhan dan perampokan yang menewaskan Mo’mi Daeng Paleng (56), warga Dusun Je’ne, Desa Lagaruda, Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, hingga kini belum menemukan titik terang.
Lebih dari tiga bulan berlalu sejak peristiwa tragis itu terjadi pada Kamis (28/5/2026), pelaku belum juga ditangkap.
Kondisi ini memicu kemarahan masyarakat. Sebuah unggahan di media sosial Facebook dengan judul “KABAR TAKALAR” yang dibagikan akun Kang Mus menyuarakan kekecewaan mendalam terhadap kinerja Polres Takalar.
“Polres Takalar diduga mandul, mencari siapa pelaku kasus pembunuhan dan perampokan di Sanrobone. Kami akan kawal sampai pelakunya didapat.” Unggah akun Kang Mus
Dalam unggahan diakun Kabar Takalar, Bams Ketua Umum Simpul Pergerakan Mahasiswa dan Pemuda lewat pamflet mempertanyakan apakah Kapolres Takalar tidak mampu mengungkap kasus pembunuhan dan perampokan di Sanrobone.
Unggahan tersebut langsung disambut antusias warga, tercatat ratusan reaksi, puluhan komentar dan bagikan. Berikut tanggapan netizen yang disampaikan di kolom komentar:
“Mungkin petunjuk atau barang bukti masih sementara didalami penyidik. Karena kasus pembunuhan biasanya bisa diungkap dalam waktu kurang dari 24 jam, pada kasus-kasus lain. Namun untuk kasus tertentu bisa memakan waktu yang tidak singkat, bahkan sampai tahunan.” — Tanggapan salah satu netizen
“Tidak maluka itu polisi Sulsel, masa ia polisi dari Jawa yang harus turun tangan di wilayahnya.” Komentar warga lainnya
“Kalau sabu-sabu cepat didapat, karena uang.” Tegas seorang warga, menyindir ketimpangan penanganan kasus
“Kalau tidak bisa ungkap, serahkan saja ke Resmob Polda Sulsel, Jangan Gengsi Polres Takalar, komen netizen.
Peristiwa berdarah itu terjadi sekitar pukul 20.00–21.30 WITA. Warga sempat mendengar korban berteriak meminta pertolongan dari dalam rumahnya.
Namun saat warga bergegas mendatangi lokasi, korban telah tergeletak tak bernyawa di depan toilet rumahnya dalam kondisi bersimbah darah dengan luka serius di kepala yang diduga akibat hantaman benda tumpul .
Dugaan pembunuhan berujung perampokan semakin menguat setelah keluarga korban melaporkan sejumlah perhiasan emas milik korban hilang. Total emas yang raib diperkirakan mencapai 30–33 gram.
Pihak kepolisian, melalui Kapolsek Mappakasunggu Iptu Sumarwan, membenarkan adanya peristiwa tersebut dan menyatakan masih melakukan penyelidikan, memeriksa saksi serta mengumpulkan barang bukti di lokasi kejadian.
Namun hingga kini, belum ada pelaku yang ditangkap maupun ditetapkan sebagai tersangka.
Keluarga korban dan masyarakat terus menuntut kejelasan, bahkan meminta Polda Sulsel turun tangan langsung karena Kapolres Takalar dinilai bungkam dalam memberikan informasi perkembangan kasus tersebut.
Kasus ini terus dipantau masyarakat luas, dengan harapan keadilan segera terwujud bagi korban dan keluarganya.






















Discussion about this post